Kurs Rupiah Ditutup Menguat 8 Poin ke Rp 13.317

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, 4 April 2017, menguat tipis delapan poin menjadi Rp 13.317 dibandingkan sebelumnya Rp 13.325 per dolar AS.

    "Laju mata uang rupiah kembali mampu naik, meski tipis. Data inflasi yang terkendali, cukup mampu menjaga rupiah dari fluktuasi," kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Pryambada di Jakarta, Selasa, 4 APril 2017.

    Ia menambahkan bahwa harga minyak mentah dunia yang menguat turut menjaga mata uang berbasis komoditas, seperti rupiah kembali terapresiasi. Terpantau harga minyak jenis WTI Crude menguat 0,38 persen menjadi 50,43 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,38 persen menjadi 53,32 dolar AS per barel.

    Namun demikian, lanjut dia, pelaku pasar diharapkan tetap waspada, terutama jika sentimen dari data ekonomi domestik mulai mereda dan pasar kembali fokus ke sentimen eksternal, salah satunya risiko kenaikan suku bunga The Fed.

    "Laju rupiah relatif masih berada dalam rentang pergerakan tipis mengingat sentimen eksternal belum cukup kondusif," katanya.

    Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa menjelang dirilisnya data neraca perdagangan AS menjadi salah satu sebab para pelaku pasar uang menahan untuk masuk ke aset dolar AS.

    "AS akan merilis data neraca perdagangannya, data yang sesuai ekspekstasi dapat mendorong dolar AS kembali terapresiasi," katanya.

    Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Selasa ini, tercatat nilai tukar rupiah bergerak melemah ke posisi Rp 13.326 dibandingkan Senin, 3 April 2017, di posisi Rp13.324 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).