BPS Perkirakan Inflasi Tinggi pada Mei dan Juni  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto (tengah) menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, 7 November 2016. Tempo/Fajar Pebrianto

    Ketua Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto (tengah) menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, 7 November 2016. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.COJakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan akan terjadi inflasi tinggi pada bulan menjelang Hari Raya Lebaran, yakni Mei dan Juni 2017. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, seperti biasa, menjelang hari besar akan terjadi kenaikan harga pada komoditas tertentu, seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap barang tersebut.

    “Yang perlu diperhatikan adalah Mei dan Juni, karena awal puasa di Mei dan Lebaran di akhir Juni. Kita semua tahu, selalu terjadi kenaikan harga di sana. Mudah-mudahan pemerintah bisa mengendalikan harga, terutama harga makanan,” tutur Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin, 3 April 2017.

    Baca: Maret Catatkan Deflasi, Menteri Darmin: Karena Harga Pangan Turun

    Hari ini BPS mencatat deflasi selama Maret 2017 sebesar 0,02 persen. Dari indeks harga konsumen (IHK) 82 kota, sebanyak 49 kota mengalami deflasi dan 33 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,49 persen dengan IHK 134,11 dan deflasi terendah terjadi di Padang dan Purwokerto, masing-masing 0,01 persen dengan IHK 134,04 dan 125,22.

    Adapun deflasi tersebut terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 0,66 persen, juga kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,13 persen.

    Sedangkan untuk inflasi paling tinggi terjadi di Merauke sebesar 1,24 persen dengan IHK 135,67 serta terendah terjadi di Tembilahan dan Banjarmasin, masing-masing 0,01 persen dengan IHK masing-masing 131,26 dan 127,74.

    Baca: Di luar Perkiraan, Maret 2017 Catatkan Deflasi 0,02 Persen

    Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,31 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar nol persen; kelompok sandang 0,18 persen; kelompok kesehatan 0,21 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,08 persen.

    Adapun komoditas bahan makanan yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi antara lain cabai merah, beras, cabai rawit, ikan segar, telur ayam ras, dan bawang putih. Sedangkan yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah bawang merah, jengkol, anggur, dan minyak goreng.

    Sebagai informasi, dengan terjadinya deflasi pada Maret 2017, secara tahun kalender per Januari, terjadi tingkat inflasi 1,19 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2017 terhadap Maret 2016) 3,61 persen.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.