IHSG Pekan Depan Dipengaruhi Perdagangan dan Trump

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grup band Nidji menutup perdagangan IHSG bulan Januari di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 31 Januari 2017. IHSG ditutup turun 0,16 persen atau 8,56 poin ke level 5.294,10. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Grup band Nidji menutup perdagangan IHSG bulan Januari di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 31 Januari 2017. IHSG ditutup turun 0,16 persen atau 8,56 poin ke level 5.294,10. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditopang sentimen dari data-data ekonomi pada perdagangan pekan depan.

    Sentimen internal berasal dari data inflasi. Reza memprediksi inflasi berkisar 0,18 hingga 0,26 persen. Segmen bahan makanan diperkirakan masih memberikan kontribusi besar. Sementara sentimen eksternal berupa data indeks manufaktur, ekspor dan impor, serta penjualan ritel Amerika, Eropa, dan Asia yang juga akan dirilis.

    "Jika data-data tersebut dirilis positif maka dapat memberikan sentimen positif kepada pasar," kata Reza seperti dilansir keterangan tertulis, Sabtu, 1 April 2017.

    Reza mengatakan IHSG juga akan dipengaruhi oleh kemajuan kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah gagal mengajukan ratifikasi program layanan kesehatan masyarakat Amerika. Sentimen lain yang perlu diperhatikan adalah kelanjutan rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) yang bisa mempengaruhi kondisi pasar.

    Reza memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang support 5.550 - 5.570 dan resisten 5.615 - 5.627. "Waspadai aksi ambil untung yang dapat terjadi setelah IHSG menyentuh level tertinggi terbarunya," kata dia.

    Sementara Rupiah pekan depan diperkirakan bergerak di rentang Rp 13.355 - Rp 13.310. Reza mengatakan masalah Brexit dapat membuka peluang penguatan bagi Rupiah jika dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Penyelesaian dalam waktu singkat bisa menahan penguatan dolar Amerika. Jika dolar melemah, Rupiah berpotensi menguat.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.