MRT Jakarta, Ini Kelanjutan Rencana Induk 12 TOD

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengangkut pipa di up track tunnel Mass Rapid Transportation (MRT), Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 23 Maret 2017. Pembangunan MRTtelah mencapai 66,92 persen untuk konstruksi bangunan sipil, pada akhir Februari 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Pekerja mengangkut pipa di up track tunnel Mass Rapid Transportation (MRT), Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 23 Maret 2017. Pembangunan MRTtelah mencapai 66,92 persen untuk konstruksi bangunan sipil, pada akhir Februari 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - PT MRT Jakarta tengah merampungkan rancang induk pembangunan 12 titik pengembangan kawasan properti terintegrasi berbasis transportasi atau transit oriented development tahap pertama Koridor Lebak Bulus—Bundaran HI.

    Direktur Utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar mengatakan, pengembangan transit oriented development atau TOD bertujuan membantu biaya operasional. Selain itu, pengembangan TOD bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitarnya.

    “Tahun ini mulai melakukan survei dan perencanaan. Dari masterplan yang dikembangkan, dampak sosial ekonomi dari TOD bisa mencapai Rp15 triliun hingga Rp20 triliun,” ujarnya, belum lama ini.

    Dari 12 stasiun yang akan dikembangkan menjadi TOD, dia menyebutkan bahwa Stasiun Dukuh Atas akan menjadi prioritas karena terkoneksi dengan enam transportasi publik lainnya.

    Menurut William, lima kawasan akan dijadikan TOD maksimum, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Blok M, dan Dukuh Atas. Tiga stasiun lainnya yakni Senayan, Istora, dan Bendungan Hilir akan dikembangkan dengan pola TOD atau konsep pengembangan medium.

    Sementara itu, empat stasiun sisanya, yakni Haji Nawi, Blok A, Sisingamangaraja, dan Setiabudi akan dikembangkan dengan konsep TOD minimum. “Mimpi kami membuat kawasan stasiun lebih atraktif. Referensinya depo MRT Hong Kong yang bisa menghasilkan revenue untuk biaya operasional,” ujarnya.

    Jika mengacu pada MRT Hong Kong, lanjutnya, pihaknya akan membangun kawasan komersial berupa apartemen murah, sentra bisnis, dan pusat komunitas di atas stasiun bawah tanah. Adapun, biaya investasi yang diperlukan masih dalam kajian rancang induk.

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro optimistis, konsep TOD yang dikembangkan akan memiliki dampak ekonomi yang cukup signifikan.

    “MRT Hong Kong bisa menghidupi dirinya sendiri dari TOD. Kita harapkan MRT Jakarta mulai mengeksplorasi kemungkinan pengembangan TOD,” ujarnya.

    Sebelumnya, William mengatakan secara keseluruhan progres konstruksi untuk faase pertama mencapai 66 persen, dengan capaian konstruksi untuk paket di bawah tanah telah 85 persen.

    Dia menargetkan, konstruksi untuk fase pertama dapat mencapai 93 persen hingga akhir tahun ini dan mulai beroperasi pada Maret 2019. “Untuk pekerjaan underground telah 85 persen. Dua dari empat tunnel sudah selesai terpasang,” ujarnya, 21 Maret 2017.

    Dia menjelaskan, fase pertama terdiri atas 8 paket dengan perincian 3 paket konstruksi melayang sepanjang 10 kilometer sejak Blok M—Lebak Bulus; 3 paket pekerjaan bawah tanah sepanjang 6 kilometer sejak Stasiun Senayan—Bunderan HI; sedangkan 2 paket lainnya merupakan pekerjaan sistem.

    William memperkirakan nantinya MRT Jakarta fase pertama dapat mengangkut setidaknya 173.400 penumpang per hari. Namun, dia belum bisa memastikan tarif yang akan dikenakan kepada pengguna jasa. “Kami masih hitung berapa keekonomian dari operasi kereta ini,” ujarnya.

    Di sisi lain, pihaknya juga tengah bersiap untuk memulai pembangunan fase kedua. Menurut William, PT MRT Jakarta dan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. sudah menandatangani nota kesepahaman bersama soal pembangunan fase ini pada 3 Maret 2017. Proyek tersebut direncanakan dibangun mulai 2018.

    Berkaitan dengan pembiayaan, Bambang mengatakan, idealnya pembangunan infrastruktur transportasi massal didukung penuh oleh anggaran negara, baik yang bersumber dari anggaran internal negara maupun dari pinjaman atau hibah luar negeri. Kondisi ini berlaku pada pembangunan MRT tahap pertama koridor Lebak Bulus—Bundaran HI.

    “Fase kedua Utara—Selatan melanjutkan pinjaman JICA, skemanya sama persis fase pertama. Untuk fase Barat—Timur pengembangan berikutnya, pemerintah akan mengembangkan opsi-opsi pendanaan,” ujarnya.

    Menurutnya, hal itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin mempercepat pembangunan MRT koridor Selatan—Utara fase kedua dan koridor Timur—Barat koridor Cikarang—Balaraja.

    Pengerjaan fase kedua yang semula rencananya dimulai pada 2019 dipercepat menjadi 2018, sedangkan MRT Cikarang—Balaraja dari yang rencana sebelumnya 2022 dimajukan menjadi 2019.

    Biaya proyek MRT untuk fase pertama koridor Lebak Bulus—Bundaran HI sepanjang 16 kilometer yang tengah dikerjakan mencapai Rp 14,16 triliun. Skema pendanaannya 49 persen hibah dan 51 persen pinjaman Japan International Cooperation Agency.

    Menteri Bambang menambahkan, skema pendanaan serupa juga akan diterapkan untuk fase kedua yang semula direncanakan koridor Bunderan HI—Kampung Bandan. Akan tetapi, pembangunan fase kedua masih menunggu kepastian lokasi pembangunan depo. Pasalnya, lahan depo yang semula direncanakan di Kampung Bandan telah disewakan kepada pihak ketiga sehingga pemda DKI memutuskan lokasi alternatif di Ancol Timur.

    Konsekuensinya, panjang jalur MRT yang tadinya 8,50 kilometer bertambah menjadi 14,60 kilometer. Penambahan biayanya pun diperkirakan bisa mencapai Rp11,70 triliun.

    Menurut William, secara keseluruhan progres konstruksi untuk faase pertama mencapai 66 persen, dengan capaian konstruksi untuk paket di bawah tanah telah 85 persen. Dia menargetkan, konstruksi untuk fase pertama dapat mencapai 93 persen hingga akhir tahun ini dan mulai beroperasi pada Maret 2019. “Untuk pekerjaan underground telah 85 persen. Dua dari empat tunnel sudah selesai terpasang,” ujarnya.

    William menjelaskan, fase pertama terdiri atas 8 paket dengan perincian 3 paket konstruksi melayang sepanjang 10 kilometer sejak Blok M—Lebak Bulus; 3 paket pekerjaan bawah tanah sepanjang 6 kilometer sejak Stasiun Senayan—Bunderan HI; sedangkan 2 paket lainnya merupakan pekerjaan sistem.

    William memperkirakan nantinya MRT Jakarta fase pertama dapat mengangkut setidaknya 173.400 penumpang per hari. Namun, dia belum bisa memastikan tarif yang akan dikenakan kepada pengguna jasa.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).