Bonus Demografi, Pendapatan per Kapita Bisa Tembus Rp 390 juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo menjadi pembicara dalam Dialog Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan, 2 November 2015. ANTARA/Dewi Fajriani

    Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo menjadi pembicara dalam Dialog Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan, 2 November 2015. ANTARA/Dewi Fajriani

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan per kapita melalui kekuatan bonus demografi. Menurut Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, pada 2045 penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai 305 juta jiwa.

    Dengan bonus demografi saat ini, diperkirakan sebanyak 52 persen akan memasuki usia produktif. Hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara menjadi positif.

    "Indonesia dapat mencapai posisi 5 besar sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dengan pendapatan per kapita US$ 29.300," ujar Mardiasmo, saat menyampaikan keynote speech mewakili Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Rakernas XVI HIPMI, Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Timur, pada Senin, 27 Maret 2017.

    Baca : Kebijakan Ekonomi, Jokowi: Mahzab Saya Persaingan

    Dengan menggunakan kurs saat ini yakni Rp 13.309 per dolar Amerika Serikat, nilai pendapatan per kapita itu setara dengan Rp 390 juta per orang per tahun.

    Menurut Mardiasmo, ada beberapa faktor pendukung yang saat ini sedang dilakukan pemerintah melalui diversifikasi sektor produk untuk diekspor dan berbagai reformasi yang dilakukan. Menurut dia, teknologi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. "Paket kebijakan ekonomi juga bukti bahwa pemerintah fokus pada e-commerce," tuturnya. 

    Mardiasmo menambahkan Indonesia telah beberapa kali bertahan meski diterpa krisis ekonomi. Paling parah, krisis terjadi pada 1998. Pada masa krisis 1998, pertumbuhan ekonomi anjlok hingga mencapai minus 13 persen, dengan inflasi mencapai 70 persen.

    Baca : Menjelang Tax Amnesty Berakhir, Capaian Dana Repatriasi Masih Rendah

    Untuk mengatasi hal itu, berbagai reformasi ekonomi pun dilakukan di segala lini, baik reformasi politik hingga ekonomi. Baru pada era 2000 ekonomi Indonesia mulai mengalami perbaikan ditandai dengan investasi bisnis yang mulai bangkit. "Alhasil ekonomi dapat tumbuh di atas 5 persen dan yang tertinggi. Ekonomi Indonesia telah menjadi katalisator pertumbuhan," ucap Mardiasmo.

    Belajar dari sejarah ekonomi Indonesia, menurut Mardiasmo penting untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas. Karena tantangan ke depan Indonesia dihadapkan pada tingkat kemiskinan yang semakin tinggi. Adapun kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi berada pada tingkat konsumsi dan investasi. Selain itu sinergi juga perlu dilakukan mulai dari kebijakan fiskal hingga kebijakan moneter.

    "Tahun lalu kebijakan telah efektif. Reformasi pajak tetap akan dilakukan pasca tax amnesty, yakni dengan memperluas basis pajak. Kita masih butuh dana yang tinggi untuk infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan," ucapnya.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.