Menteri Jonan Jelaskan Soal Tarif Listrik dan BBM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melakukan isi ulang pulsa listrik di salah satu perumahan di Jakarta, 30 November 2015. Tarif listrik pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 VA dan 2.200 VA pada Desember 2015 akan mengalami kenaikan sebesar 11,6 persen. ANTARA/M Agung Rajasa

    Warga melakukan isi ulang pulsa listrik di salah satu perumahan di Jakarta, 30 November 2015. Tarif listrik pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 VA dan 2.200 VA pada Desember 2015 akan mengalami kenaikan sebesar 11,6 persen. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan bahwa tarif dasar listrik nonsubsidi dan bahan bakar minyak (BBM) yang dikelola pemerintah tidak akan mengalami kenaikan harga pada bulan April sampai Juni.

    "April sampai dengan Juni tarifnya tidak akan berubah, listrik dan BBM," kata Ignasius Jonan seusai diskusi terkait masa depan Migas Indonesia di Jakarta, Jumat, 24 Maret 2017.

    Jonan mengatakan, tidak adanya kenaikan tersebut merupakan upaya efisiensi dari penghematan energi yang sudah dilakukan utamanya dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). "Efisiensinya apa, kalau pingin tahu lebih jelasnya itu PLN yang dapat memberitahukan," kata Jonan.

    SimakPemulihan Terumbu Karang Raja Ampat Makan Waktu Hingga 150 Tahun

    Mantan Menteri Perhubungan tersebut selalu menekankan pentingnya efisiensi dalam industri kelola minyak dan gas bumi (migas). Kemudian untuk BBM, ia mengatakan, memang benar tidak akan ada kenaikan sampai bulan Juni. Terkait dengan upaya tersebut, Jonan meminta selalu memaksimalkan efisiensi.

    Industri Migas diminta lebih kompetitif baik di kancah nasional dan internasional, guna turut meningkatkan perekonomian Indonesia. Jonan juga mencontohkan negara Jepang, yang tidak mempunyai sumber daya alam namun mampu meningkatkan potensi perekonomian negara.

    Lihat pulaLuhut Akan Pimpin Rapat Bahas Ojek Online

    "Untuk harga kepada konsumen kami yang mengatur, jadi jangan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Karena harga bahan memang pasar yang menentukan," katanya.

    Jonan lantas menambahkan, apalagi semakin lama harga gas dan BBM untuk penunjang energi listrik semakin berkurang, sehingga penghematan serta jaminan jangka panjang juga harus diperhitungkan.

    "Jika memang harga gas di dalam negeri lebih mahal, ya mau tidak mau harus impor gasnya, demi mencapai lebih efisien," kata Jonan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.