Pelemahan Harga Batu Bara Terus Berlanjut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seoang anak laki-laku yang  bekerja di pertambangan batu bara di Samangan, Afganista, 1 Mei 2014. FARSHAD USYAN/AFP/Getty Images

    Seoang anak laki-laku yang bekerja di pertambangan batu bara di Samangan, Afganista, 1 Mei 2014. FARSHAD USYAN/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelemahan harga batu bara berlanjut pada penutupan perdagangan ketiga, Rabu, 22 Maret 2017. Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk Januari 2018, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup turun tajam 1 persen atau 0,65 poin ke US$64,65 per metrik ton.

    Harga batu bara kontrak Januari berlanjut melemah pada perdagangan hari ketiga berturut-turut setelah melorot 1,35 persen atau 0,90 poin di posisi 66.

    Sejalan dengan batu hitam, harga minyak WTI kontrak Mei 2017 kemarin berakhir melemah 0,41% atau 0,20 poin ke US$48,04 per barel. Patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Mei 2017 turut ditutup melemah 0,63 persen atau 0,32 poin ke US$50,64 per barel.

    Harga minyak mentah kemarin turun ke level terendahnya sejak akhir November, setelah data menunjukkan kenaikan jumlah minyak mentah AS yang lebih cepat dari ekspektasi, sehingga menimbulkan keraguan tentang kelangsungan upaya pemangkasan produksi yang dipimpin OPEC.

    Menurut Energy Information Administration (EIA), seperti dikutip Reuters, jumlah persediaan AS naik hampir 5 juta barel menjadi 533,1 juta pekan lalu, jauh melampaui prediksi dengan kenaikan sebesar 2,8 juta barel.

    Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam




























    Tanggal

    US$/MT

    22 Maret

    64,65

    (-1,00 persen)

    21 Maret

    65,30

    (-1,06 persen)

    20 Maret

    66,00

    (-1,35 persen)

    17 Maret

    66,90

    (+0,22 persen)

    16 Maret

    66,75

    (-0,45 persen)


     


    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.