Pembenahan Jalur KA Akan Habiskan Dana Sebesar Rp250 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja memasang bantalan jalur rel kereta api ganda di Desa Turi, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (4/1). ANTARA/Syaiful Arif

    Sejumlah pekerja memasang bantalan jalur rel kereta api ganda di Desa Turi, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (4/1). ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, Garut — Kementerian Perhubungan membutuhkan anggaran Rp250 triliun untuk pembangunan rel ganda baru dan reaktivasi jalur nonaktif di seluruh Tanah Air.

    Santoso Sinaga, Kepala Seksi Kelaikan Jalur Pembangunan Kereta Api Wilayah I Dirjen Perkeretapian Kemenhub, menyatakan dana Rp250 triliun merupakan perhitungan khusus untuk rencana strategis pembangunan rel 3.200 km hingga 2019.

    “Tapi dana yang tersedia hanya 30 persen. Jadi, kalau kita lihat tren pendanaan dari 2015 hanya berkisar Rp12 triliun-Rp16 triliun per tahun,” katanya di sela-sela Diskusi Napak Tilas Jalur Non Aktif Cibatu-Garut-Cikajang di Garut, Rabu (22 Maret 2017). 

    Dengan perhitungan kebutuhan Rp250 triliun, dia menyatakan setiap tahun pemerintah pusat harus mengalokasikan anggaran Rp50 triliun dari APBN. Sayangnya, dia menyatakan dana APBN terbatas sehingga anggaran yang bisa direalisasikan hanya 30 persen dari kebutuhan. 

    Santoso menegaskan hingga 2019 pemerintah pusat hanya bisa menyelesaikan 1.000 km. Skala prioritas harus diterapkan pemerintah agar dana yang tersedia bisa berdampak signifikan terhadap pembangunan transportasi massal berbasis rel itu. 

    “Untuk Jabar program prioritas itu adalah reaktivasi jalur kereta api RancaekekTanjungsari, kemudian Cibatu Garut Cikajang menyusul,” ucapnya.

    Sebenarnya, paparnya, hingga 2018 Ditjen Perkeretaapian sudah menyusun program tetapi reaktivasi Cibatu-Garut Cikajang belum dimasukkan. Untuk reaktivasi Rancaekek-Tanjungsari sudah diprogramkan pada tahun lalu. Namun, dia harus melakukan pembagian tugas dengan pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

    Santoso menyatakan skema yang dibuat pemerintah pusat yaitu membangun sementara penertiban lahan dibebankan kepada PT KAI.

    “Jadi, kalau penertiban dan pengadaan lahannya selesai, kita akan segera untuk  mulai pembangunan. Skemanya sudah jelas, cuma jadwal pastinya kapan menunggu proses penertiban dan penyediaan lahan,” ucapnya.

    Mengenai trase Cibatu-Cikajang, dia menilai pemda dan pemerintah pusat perlu duduk bersama. Sejauh ini, trase CibatuCikajang belum ditentukan menggunakan jalur yang lama atau bergeser ke luar Kota Garut karena sebagian jalur rel lama di perkotaan sudah beralih fungsi.

    “Kalau disepakati dibangun di trase yang lama, maka kami harus yakinkan pemda bahwa mereka bisa memindahkan penduduk yang selama ini menempati lahan KAI,” ucapnya.

    Berdasarkan kajian Ditjen Perkeretapian, dana yang dibutuhkan untuk reaktivasi jalur Cibatu-Garut-Cikajang membutuhkan dana Rp2,3 triliun karena harus memperbaiki rel yang telah rusak termasuk memperbaiki sejumlah jembatan.

    “Dengan APBD Garut hanya Rp3 triliun, saya tidak yakin mereka mau mengalokasikan dana Rp100 miliar per tahun karena kebutuhan lainnya atau mereka bisa menggunakan skema investasi,” ujarnya. 

    Sementara itu, Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menyatakan menyambut baik rencana PT KAI dan  Kemenhub mengaktifkan jalur KA CibatuGarut hingga Cikajang. Dia berharap kehadiran moda transportasi massal itu bisa mengembalikan identitas Garut sebagai Swiss Van Java.

    Dia juga sering mendapatkan pertanyaan dari warga masyarakat yang selama ini menempati lahan PT KAI.

    “Karena ini wacana kan sejak lama. Jadi, warga sendiri sebenarnya butuh informasi yang pasti sepertinya apa dan pemda sendiri siap mendukungnya,” ucapnya.

    Menurutnya, kehadiran KA akan ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Garut. Alasannya, sepanjang 2015 laju pertumbuhan ekonomi Garut menjadi yang terbelakang di Jawa Barat karena hanya 4,2 persen. Dengan kehadiran moda transportasi berbasis rel, dia berharap banyak investor masuk ke Garut.

    "Selain itu, KA cocok untuk mengangkut hasil pertanian karena mayo ritas penduduk Garut adalah petani dan pertanian di Garut berada di pegunungan,” ucapnya.  Kehadiran KA di Garut, paparnya, memposisikan kota itu sebagai Swiss di Jawa Barat.

     “Swiss itu terkenal karena dataran tinggi yang bisa ditempuh menggunakan kereta api. Begitu juga Garut dulu sejarahnya ketika orang turun di Garut bisa melihat ketinggian Gunung Papandayan dan hotel,” ucapnya.

    Pada 1927 dan 1935, komedian Hollywood Charlie Chaplin pernah ber kunjung ke Garut dengan naik KA

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.