Kapitalisasi Pasar BEI Cetak Rekor Baru Rp 6.012 Triliun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa Sekolah Dasar melihat pekerja di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 September 2016. Tempo/Tony Hartawan

    Seorang siswa Sekolah Dasar melihat pekerja di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 September 2016. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak rekor baru pada perdagangan Kamis, 16 Maret 2017. Kapitalisasi pasar BEI tercatat mencapai Rp 6.012 triliun. "Ini capaian kapitalisasi pasar tertinggi sepanjang masa," kata Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI, Yulianto Aji Sadono, seperti dilansir keterangan tertulis, Kamis, 16 Maret 2017.

    Baca : Suku Bunga The Fed Naik, IHSG Dibuka ke Level 5.471

    Pencapaian kapitalisasi pasar tertinggi sebelumnya terjadi pada 8 November 2016 yakni sebesar Rp 5.918,56 triliun. Yulianto mengatakan rekor tersebut membuktikan bahwa perdagangan efek di BEI semakin prospektif dan likuid. Ia berharap nilai kapitalisasi pasar di BEI dapat terus tumbuh sejalan dengan peningkatan level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan begitu, BEI dapat memberikan imbal hasil bagi para investor di pasar modal Indonesia.

    Pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup menguat 1,58 persen atau 85,86 poin ke posisi 5.518,24 dari 5.432,28 pada perdagangan Rabu, 15 Maret 2017. Yulianto mengatakan capaian IHSG tersebut merupakan capaian tertinggi di tahun ini.

    Baca : Jasa Marga Bagikan Dividen Rp 566,79 Miliar

    BEI juga mencatat satu emiten baru dalam perdagangan hari ini. PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk menggelar penarawan umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan nilai penawaran Rp 535 per saham. Harga saham emiten berkode PORT ini ditutup menguat 7,47 persen ke posisi Rp 575 per saham. Dari hasil IPO tersebut, emiten pertama di 2017 itu memperoleh dana Rp 308,61 miliar.

    VINDRY FLORENTIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).