Terkendala Aksesibilitas, Wisman ke Jawa Barat Hanya 1,1 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan menaiki perahu saat akan menuju Pulau Biawak, di Laut Jawa Indramayu, Jawa Barat. 26 Juni 2014. Pulau ini menjadi salah satu destinasi favorit di Indramayu. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Sejumlah wisatawan menaiki perahu saat akan menuju Pulau Biawak, di Laut Jawa Indramayu, Jawa Barat. 26 Juni 2014. Pulau ini menjadi salah satu destinasi favorit di Indramayu. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengungkap penyebab masih sangat rendahnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke provinsinya.

    "Kenapa wisman ke Jabar kecil hanya 1,1 juta? Ini karena aksesibilitas," kata Deddy Mizwar di Bandung, Selasa, (14 Maret 2017).

    Padahal jumlah wisatawan Nusantara ke Jabar justru tercatat paling tinggi dibandingkan provinsi lain.

    Menurut dia, sekitar 80-90 persen wisman datang ke suatu tujuan wisata menggunakan akses melalui udara. Sementara aksesibilitas melalui udara di Jabar, kata dia, belum memadai.

    "Jadi sekarang lapangan udara harus dikembangkan di Jabar," katanya.

    Deddy berpendapat pariwisata merupakan sektor yang paling cerah sehingga perlu dikembangkan lebih serius di Jabar yang tercatat sebagai provinsi terpadat di Indonesia.

    Pemerintah Provinsi Jabar, ujanya, telah menyiapkan proyek Bandara Citarate, Bandara Nusawiru, dan Bandara Kertajati.

    Untuk Bandara Nusawiru saat ini sedang dalam tahap revitalisasi dengan salah satunya upaya perpanjangan landasan pacu (runway) hingga mencapai 2.200 meter.

    "Nusawiru akan dibantu pemerintah pusat untuk perpanjangan runway. Lahannya sudah siap tinggal menunggu pembangunan konstruksinya saja," ujar Deddy.

    Setelah tuntas dibangun, Nusawiru nantinya bisa didarati pesawat berbadan besar.

    Dengan begitu, akses dari Nusawiru menuju Green Canyon yang hanya terpaut 6 km, Pantai Batu Karas yang berjarak 12 km, dan Pananjung, Pangandaran yang terpaut 30 km pun akan terbuka lebar.

    Pemrov juga sedang memperbaiki akses menuju Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi yang nantinya akan dikoneksikan dengan Bandara Citarate.

    "Ini sekaligus untuk memuluskan jalan Geopark Ciletuh masuk ke dalam jaringan geopark dunia atau Unesco Global Geopark," kata Deddy.

    Satu bandara lainnya, adalah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang sedang dibangun di Kertajati, Majalengka.

    BIJB bahkan diperkirakan akan menjadi bandara terluas di Indonesia dan menjadi kedua terbesar setelah Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng, Banten

    Luas terminalnya bahkan mencapai 92.000 meter persegi yang bisa menampung 5-6 juta penumpang.

    "Luas Bandara Kertajati yaitu 1.800 hektare. Ada juga lahan seluas 3.200 hektare yang digunakan untuk aero city. Ini bisa dimanfaatkan dengan baik untuk pengembangan wilayah dan pariwisata yang ada di Cirebon Raya," ungkap Deddy.

    Bandara Kertajati dibangun untuk menggantikan fungsi dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

    Bandara tersebut akan dilengkapi dengan akses jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan dan juga akses kereta.

    Bila sudah beroperasi pada akhir 2017 atau awal 2018 nanti, runway Bandara Kertajati akan mengalahkan panjang landasan Bandara Soekarno-Hatta yang berukuran 3.660 meter.

    Saat ini, untuk runway terpanjang di Indonesia dimiliki Bandara Hang Nadim (Batam) yaitu 4.025 meter.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).