Transjakarta Beralih ke Solar, Konsumsi Gas Menurun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bus Transjakarta (busway) saat mengisi bahan bakar gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Auri, Pancoran, Jakarta. [TEMPO/ Dwianto Wibowo]

    Bus Transjakarta (busway) saat mengisi bahan bakar gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Auri, Pancoran, Jakarta. [TEMPO/ Dwianto Wibowo]

    TEMPO.CO, Jakarta – Pemanfaatan gas untuk sektor transportasi darat saat ini masih rendah. Compressed Natural Gas and City Gas Manager PT Pertamina (Persero), Ryrien Marisa, mengatakan serapan gas pada Februari 2017 baru mencapai 2,8 juta kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MMscfd).

    Ryrien mengatakan serapan gas untuk transportasi darat menurun dibanding pada 2016, yang mencapai 3,8 MMscfd. Sedangkan pada 2015, serapan gas sebesar 3,6 MMscfd. “Serapan gas menurun sejak Transjakarta kembali menggunakan solar,” katanya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Selasa, 14 Maret 2017.

    Ryrien mengatakan konsumsi gas Transjakarta terhitung besar. Tahun lalu, sebanyak 1.200 bus Transjakarta menggunakan gas. Jumlahnya berkurang menjadi 800 unit dan akan terus berkurang lagi tahun depan.

    ”Manufaktur bus tidak sanggup mengadakan armada sebanyak yang mereka butuhkan,” ujarnya. Pasalnya, harga bus CNG lebih mahal dibanding bus yang menggunakan solar.

    Ryrien meminta pemerintah memastikan arah kebijakan tentang Transjakarta. Pasalnya, infrastruktur CNG sudah banyak tersedia. “Apakah semua mau balik ke solar atau tetap CNG,” tuturnya.

    Ryrien mengatakan alokasi gas sangat besar. Menurut dia, alokasi saat ini sebanyak 25 MMsfcd.

    VINDRY FLORENTIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.