Pariwisata dan Perikanan Jadi Andalan Raja Ampat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandagan gugusan bukit kars Pianemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, 19 November 2016. Kawasan tersebut merupakan salah satu tempat populer yang banyak dikunjungi wisatawan domestik ataupun internasional di Kabupeten Raja Ampat. TEMPO/Hariandi Hafid

    Pemandagan gugusan bukit kars Pianemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, 19 November 2016. Kawasan tersebut merupakan salah satu tempat populer yang banyak dikunjungi wisatawan domestik ataupun internasional di Kabupeten Raja Ampat. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.COJakarta - Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati mengatakan pemerintahannya akan fokus pada pengembangan ekonomi daerah yang berbasis konservasi. Keseriusan itu diwujudkan dalam penandatanganan deklarasi 18 perwakilan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Sorong, Papua Barat, dan pemangku kepentingan pariwisata di wilayah tersebut.

    “Sudah menjadi komitmen kami untuk membangun sektor pariwisata dan perikanan sebagai leading sector di Raja Ampat,” kata Faris dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 14 Maret 2017.

    Baca: Kapal Tabrak Terumbu Karang Raja Ampat, Ini Langkah Menteri Susi

    Penandatanganan yang dilakukan pada Rabu pekan lalu merupakan tindak lanjut dari hasil kajian daya dukung pariwisata berkelanjutan Raja Ampat. Tujuannya agar potensi pariwisata juga dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Raja Ampat.

    Data Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mencatat pengunjung wisata Raja Ampat pada 2007 sebanyak 998 wisatawan. Sedangkan pada 2015 melonjak menjadi 14.137 wisatawan. Bahkan bisa diprediksi pada 2021 wisatawan akan mencapai 92 ribu wisatawan apabila tren peningkatan terus terjadi. 

    Direktur Konservasi Kelautan Internasional Victor Nikijuluw menuturkan, pemerintah bisa menggunakan data tersebut untuk keperluan promosi. Menurut dia, promosi dan pengembangan bisa dilakukan apabila jumlah kunjungan wisatanya masih di bawah batas daya tampung, yaitu 91.275 orang dalam setahun untuk kunjungan tiga wisata per hari.

    Baca: Wapres AS ke Indonesia, Disebut Bahas Terorisme hingga Freeport

    Namun, Victor menegaskan, pengawasan dan pengelolaan yang lebih ketat harus dilakukan apabila jumlah pengunjung sudah mendekati batas daya tampung. “Perlu dikembangkan tata aturan berwisata untuk mendukung upaya pengendalian jumlah wisata,” katanya. 

    Tata aturan yang dibuat bisa berupa tata aturan wisata selam, snorkeling, berinteraksi dengan pari manta, wisata bukit karst, atau wisata pengamatan burung.

    Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat Lindert Mambrasar mengatakan pihaknya berharap, dengan adanya deklarasi tersebut, ada keberpihakan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat terhadap pengusaha lokal asli Raja Ampat. 

    Baca: Jokowi Terima Kunjungan Bos Toyota Jepang di Istana

    Selain itu, otoritas pengelola pariwisata juga perlu menindaklanjuti proses pembangunan pariwisata secara berkelanjutan. Misalnya dengan penentuan target dan kuota pengunjung untuk atraksi dan lokasi, melakukan evaluasi secara rutin, juga menghadirkan polisi pariwisata.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.