Perusahaan Austria Jajaki Peluang Investasi di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dirut PT DI Budi Santoso, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, KSAU Senegal Jendral Ousmane Kane, dan Deputy General Director A.D. Begia Max Abibul, pada saat  meninjau persiapan ferry flight pesawat CN235-220 Multi Purpose di Hanggar Final Assy Fixed wing PT. DI. Hery MTH/PT. DI

    Dirut PT DI Budi Santoso, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, KSAU Senegal Jendral Ousmane Kane, dan Deputy General Director A.D. Begia Max Abibul, pada saat meninjau persiapan ferry flight pesawat CN235-220 Multi Purpose di Hanggar Final Assy Fixed wing PT. DI. Hery MTH/PT. DI

    TEMPO.CO, Jakarta-Perusahaan asal Austria, Lenzing AG, sedang menjajaki peluang investasi di Indonesia, di mana induk dari PT South Pacific Viscose (SPV) ini akan memproduksi tencel, salah satu jenis serat rayon dengan kualitas di atas viscosa yang juga digunakan sebagai bahan baku benang pintal dan non-woven yang jumlahnya di dunia masih sangat terbatas.

    “Mereka lagi mempertimbangkan untuk ekspansi di Indonesia, mungkin akan tambah kapasitas 300 ribu ton per tahun dengan special additional fibers, staple fibers. Di sini belum ada yang produksi. Mereka akan bawa teknologi baru,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Christian Dressler dari Lenzing AG dan Kumar Ramalingam dari PT SPV di Jakarta, seperti dilansir siaran pers, Kamis, 9 Maret 2017.

    PT SPV yang berdiri di Indonesia sejak tahun 1978 ini telah memiliki pabrik serat rayon viscosa di Purwakarta, Jawa Barat. Perusahaan telah menanamkan modalnya di Tanah Air sekitar USD475,58 juta dengan memproduksi sebanyak 325 ribu ton per tahun untuk serat stapel.

    SPV beroperasi sebagai produsen serat stapel viscosa dan sodium sulfat sejak 1982 dengan menyerap tenaga kerja mencapai 1.746 orang. Menurut Airlangga, pihak Lenzing Group sempat menanyakan mengenai insentif fiskal yang akan diberikan untuk investasi tersebut.

    “Selain Indonesia, mereka juga melirik Thailand karena di sana menawarkan beberapa insentif. Kemudian, mereka meminta pula kepastian terkait keberlangsungan bahan baku dan tarif energi. Kalau energi dibanding Thailand, kita lebih tinggi,” ungkapnya.

    Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan, investasi untuk produksi serat rayon viscosa dapat memperoleh fasilitas tax allowance sebagaimana disebut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2015 dan yang diperbaharui melalui PP No. 9 tahun 2016 serta peraturan pelaksanaanya.

    “Dengan juga mengacu kepada Permenperin No. 48 tahun 2015, mereka berhak dapat tax allowance karena untuk ketentuan investasi diindustri tekstil minimal Rp 100 miliar, sedangkan rencana investasi mereka sebesar 300 juta Euro,” ujar Sigit.

    Ketentuan lainnya adalah jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang untuk investasi baru, sedangkan untuk perluasan dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 50 orang. Sigit menambahkan, pihak PT SPV tengah memilih lokasi pembangunan industrinya di beberapa wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    “Dalam waktu tiga bulan ini akan diputuskan. Semoga bisa masuk ke Indonesia. Kalau jadi masuk, investasi ini memperkuat struktur industri tekstil kita karena mampu produksi kain-kain yang high grade,” tuturnya.




    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).