Revisi Pertumbuhan Ekonomi Cina Berdampak ke Ekspor Nasional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo, memberikan penjelasan mengenai peluang investasi di Indonesia untuk para pengusaha Cina dalam acara Indonesia-Cina Economic Cooperation Forum di Beijing, 27 Maret 2015. Presentasi Jokowi dibuka dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. AP/Feng Li

    Presiden Joko Widodo, memberikan penjelasan mengenai peluang investasi di Indonesia untuk para pengusaha Cina dalam acara Indonesia-Cina Economic Cooperation Forum di Beijing, 27 Maret 2015. Presentasi Jokowi dibuka dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. AP/Feng Li

    TEMPO.CO, Jakarta - Revisi pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok sebesar 6,5 persen pada 2017 dinilai memberi dampak pada kinerja ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

    Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (KTT IORA) mengatakan bahwa dampak tersebut akan menyebabkan ekspor Indonesia menurun.

    "Dampak tentu ada, Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir merupakan negara tujuan ekspor Indonesia. Dampak langsung ke Indonesia ekspor akan menurun seperti batu bara dan beberapa komoditas yang diolah seperti CPO," kata Iman, di Jakarta, Senin, 6 Maret 2017.

    Pemerintah Cina merevisi target pertumbuhan ekonomi menjadi sekitar 6,5 persen untuk tahun 2017. Hal tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Li Keqiang. Pada 2016, pemerintah Negeri Panda tersebut mematok target pertumbuhan ekonomi tahun 2017 pada kisaran 6,7 hingga 7 persen.

    Tercatat, total perdagangan antara Indonesia dengan Cina mencapai 47,58 miliar dolar Amerika Serikat pada 2016. Impor Indonesia mencapai 30,80 miliar dolar AS, sementara ekspor 16,78 miliar dolar AS.

    Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia dengan negara mitra dagang mengalami defisit mencapai 14,01 miliar dolar AS di tahun tersebut.

    Menurut Iman, meski pemerintah Cina merevisi target pertumbuhan ekonomi tersebut, masih ada peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan pasar yang ada. Pemerintah Cina menginginkan adanya peningkatan konsumsi domestik yang bisa menjadi peluang ekspor bagi Indonesia.

    Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, bahwa negara tersebut memang mengalami banyak perubahan dari yang dulunya merupakan industri berat dan mengimpor bahan mentah, saat ini lebih ke sektor jasa dan konsumsi.

    "Konsumsi bisa ada peluang seperti sektor pariwisata. Tiongkok merupakan sumber wisatawan mancanegara bagi Indonesia," kata Thomas yang kerap disapa Tom tersebut.

    Namun, revisi target pertumbuhan ekonomi itu, menurut Tom, bukan merupakan hal yang mengejutkan dan terbilang masih cukup tinggi. Menurutnya, dengan pertumbuhan 6,5 persen dan ekonomi Tiongkok mencapai 11,5 triliun dolar AS, maka pertumbuhan tersebut masuk kategori tinggi.

    "Sepuluh tahun lalu, ekonomi Cina hanya tiga triliun dolar AS per tahun dan pertumbuhan 12 persen. Sekarang jauh lebih tinggi, jadi meskipun tingkat pertumbuhan turun separuh, ukuran ekonominya sudah naik empat kali lipat," kata Tom.

    Pemerintah Cina menargetkan pertumbuhan ekonomi 2017 menjadi 6,5 persen. Angka itu lebih rendah dari realisasi laju ekonomi tahun lalu sebesar 6,7 persen dan terendah dalam 25 tahun terakhir. Pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut menyuntikkan sejumlah stimulus untuk mempertahankan laju ekonominya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.