SMF Ingin Bank Penyalur Kredit Sasar Generasi XYZ  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Eric Ireng

    ANTARA/Eric Ireng

    TEMPO.CO, Semarang - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) menyarankan agar bank penyalur kredit perumahan menyasar generasi muda atau sering disebut sebagai generasi XYZ. Keberadaan generasi muda saat ini dinilai penting untuk menghindari gaya hidup yang mengarah pada krisis tempat tinggal.

    Baca: BTN Sediakan KPR untuk Pekerja Informal

    “Generasi XYZ harus diambil pasar. Jika tidak bisa putus tak punya rumah,” kata Direktur utama PT PT Sarana Multigriya Finansial (persero), Ananta Wiyogo, saat sosialisasi program KPR dan realisasi program 1 juta rumah, di Semarang, Senin 6 Maret 2017.

    Baca: Ini Cara Pekerja Nonformal Ajukan KPR Bersubsidi

    Generasi XYZ yang ia maksud adalah anak muda kreatif saat ini dengan kemampuan teknologi dan mampu memanfaatkan dunia cyber untuk menopang ekonominya. Mereka tak terikat oleh sistem ketenaga kerjaan dengan perusahaan tapi profesional dalam teknologi. “Meski tak punya slip gaji, tapi penghasilanya besar dan bisa untuk membeli rumah sejak dini,” kata Ananta.

    Sebagai orang kreatif tanpa punya slip gaji dengan penghasilan di atas rata-rata, generasi tersebut dapat menjadi sasaran sejumlah lembaga multi finance yang mengajukan sebagai penyalur pembelian rumah dari PT SMF (persero). Ananta menyebutkan telah menjalin kerja sama dengan lima perusahaan multi finance sebagai uji coba membidik generasi ini.

    Menurut dia, pasar generasi ini dinilai mudah, mengingat mendapat dukungan sistem administrasi berbasis dunia maya seperti e KTP dan layanan aplikasi google maps yang menunjukan lokasi. “Tanpa syarat njlimet dengan slip gaji, toh mereka bisa dimonitor dengan e KTP bisa dideteksi siap dan beli rumahnya di mana,” kata Ananta.

    Menurut dia, PT SMF saat ini sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah bank pembangunan daerah guna merealisasikan program 1 juta rumah. Perusahaan milik negara itu beralasan keberadaan bank pembangunan daerah itu dinilai strategis untuk memajukan masyarakat di daerah, termasuk lewat kredit pembangunan rumah.

    Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Jawa Tengah, Bayu Rama Djati menyatakan justru hambatan pembangunan rumah yang di alami masyarakat saat ini justru kenaikan penghaislan pekerja yang tak merata.

    “Karyawan tingkat atas tingkat kenaikannya lebih tinggi, karyawan tingkat bawah kenaikan penghasilanya rendah. Ini sulit merealisasikan kepemilikan rumah bagi kalangan pekerja kelas bawah,” kata Bayu.

    Ia menyebutkan saat ini membangun rumah masih memerlukan peran pemerintah yang tak hanya masalah pembiayaan. Menuurut dia, infra struktur pendukung masyarakat dalam bekerja perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya. “Termasuk peran meneyediakan lahan tempat tinggal di sekitar pertumbuhan ekonomi atau tempat kerja,” katanya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.