Pemerintah Ingin Impor LPG dari Iran Ditambah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas beraktivitas di atas Kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Pertamina Gas II saat peresmian penerimaan lifting perdana kargo LPG dari Iran di Pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur, 13 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    Petugas beraktivitas di atas Kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Pertamina Gas II saat peresmian penerimaan lifting perdana kargo LPG dari Iran di Pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur, 13 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Wiratmaja Puja mengatakan  pemerintah tengah mengupayakan penambahan impor LPG (Liquified Petroleum Gas)  dari Iran. Malah, hal itu telah dijajaki dalam kunjungan Menko Perekonomian Darmin Nasution ke Iran pada Februari lalu.

    "Kami berniat menambah jumlah LPG impor dari Iran. Kalau bisa, dengan harga yang didiskon," ujar Wiratmaja saat dicegat di gedung Dewan Pers, Ahad, 5 Maret 2017.

    Baca Juga: Pertamina Pertimbangkan Impor Elpiji dari Amerika

    Wiratmaja melanjutkan, penambahan yang akan dilakukan adalah dua kali lipat dari angka sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan LPG dalam negeri. Mengingat impor LPG dari Iran ke Indonesia selama ini adalah 500 ribu ton, maka besaran impor yang diinginkan adalah 1 juta ton.

    Wiratmaja mengingatkan  penambahan impor LPG ini masih dalam tahap penjajakan. Dengan kata lain, bisa saja batal terealisasi. Sebab, Indonesia menginginkan penambahan jumlah impor LPG dengan harga didiskon.

    "Perihal didiskonnya jadi berapa, itu biar Pertamina yang menjelaskan. Saya tidak dalam kapasitas untuk menyebutkan," ujarnya.

    Ditanyai apakah penambahan jumlah impor ini akan berpengaruh pada jumlah impor LPG dari negara lain, Wiratmaja mengiyakan. Salah satu negara yang jumlah impor LPG-nya berpotensi dikurangi adalah Arab Saudi (Saudi Aramco).

    Simak: Impor Gas, Ini yang Harus Dipertimbangkan

    Wiratmaja menambahkan  pengurangan yang dilakukan kemungkinan besar yang melalui trader saja. Sementara itu, untuk impor yang bersifat direct tetap akan dipertahankan.

    "Hal ini sudah disampaikan kepada Saudi Aramco (dalam kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud)," ujar Wiratmaja. Ditanyai apa reaksi Saudi Aramco perihal potensi pengurangan, Wiratmaja enggan menjawab.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.