Rupiah Masih Positif Meski Dibayangi Hawkish The Fed  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang dolar/Rupiah/Penukaran uang. TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi Uang dolar/Rupiah/Penukaran uang. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan mata uang rupiah dinilai masih positif kendati sentimen hawkish Federal Reserve perihal pengerekan suku bunga AS pada pertengahan Maret 2017 semakin meninggi.

    Rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (3 Maret 2017) dengan pelemahan sebesar 0,19% atau 26 poin ke posisi Rp13.383 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.397 – Rp13.365 per dolar AS. Kurs tengah dipatok Rp13.375 per dolar AS.

    Artinya dalam sepekan ini rupiah melemah 52 poin atau 0,39%. Pelemahan ini seiring dengan indeks dolar AS yang tumbuh 0,9 poin atau 0,98% menuju 102,08 pada pukul 16:51 WIB.

    ____________________________________________

    BACA

    -KURS JISDOR 3 MARET: Terdepresiasi ke 13.375, Spot Rupiah Tertekan Efek Penguatan Dolar AS

    - Isu the Fed Kembali Jadi Penggerak Kurs Rupiah

    - Seruan Kenaikan FFR Kuatkan Dolar, Rupiah Ditutup Melemah

    - NILAI TUKAR: Indeks Dolar Masih Kuat, Rupiah Masih Mampu Menguat

    _____________________________________________

    Sepanjang 2017, mata uang Garuda masih meningkat 0,67%. Tahun lalu, rupiah tumbuh 2,28% menjadi Rp13.473 per dolar AS.

    Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan pergerakan rupiah masih positif di tengah sentimen hawkish yang mendorong penguatan dolar AS. Pada Jumat (3/3) pukul 17:30 WIB, probabilitas kenaikan suku bunga dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Rabu (15 Maret 2017) sudah mencapai 88%.

    "Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sudah cukup tinggi, sehingga rupiah dan mata uang global lainnya cenderung melemah terhadap dolar AS," tuturnya saat dihubungi, Jumat (3 Maret 2017).

    Penguatan dolar AS juga ditunjang pidato perdana Presiden Donald Trump di depan parlemen. Trump yakin kondisi ekonomi Paman Sam akan membaik melalui realisasi kebijakannya seperti pembangunan infrastruktur dan pemangkasan pajak.

    Sementara dari sisi internal, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) perihal Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Inflasi pada Februari 2017 sebesar 0,23%, dan secara tahunan mencapai 3,83% yoy. Menurut Putu, data ini cukup bagus karena mendekati target Bank Indonesia senilai 4% (+/- 1%).

    Pasar masih menunggu pidato Pejabat The Fed pada Jumat (3/3) waktu setempat. Bila pernyataan dalam pidato cenderung hawkish, rupiah berpeluang melemah pada awal pekan depan.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.