CEO Yahoo Marissa Mayer Rugi Bonus dan Ekuitas Rp 187 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marissa Mayer. David Paul Morris/Bloomberg via Getty Images

    Marissa Mayer. David Paul Morris/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.COSan Francisco - CEO Yahoo Marissa Mayer pada Rabu, 1 Maret 2017, sepakat melupakan penghargaan ekuitas tahunan yang bakal didapatkannya untuk 2017 karena pelanggaran besar yang diderita perusahaan di 2014. 

    Direksi Yahoo juga memutuskan menahan bonus tahunan 2016 Mayer—biasanya sekitar US$ 2 juta atau setara sekitar Rp 27 miliar—untuk alasan yang sama. Di bawah kontrak, penghargaan ekuitas yang diterima Mayer tidak kurang dari US$ 12 juta (Rp 160 miliar) per tahun.

    Baca:
    Yahoo Menjadi Altaba? Jangan Salah, Begini Fakta Sebenarnya
    Yahoo Diakuisisi Verizon, Era Marissa Mayer pun Berakhir 

    Pengumuman itu muncul saat informasi tentang data keuangan Yahoo serta penjualannya ke Verizon diunggah Securities and Exchange Commission (Komisi Bursa dan Sekuritas Amerika Serikat).

    Dokumen itu juga menyebutkan penasihat umum Yahoo, Ronald S. Bell, mengundurkan diri dari perusahaan dan tidak akan mendapatkan pembayaran sehubungan dengan pengunduran dirinya.

    Dalam sebuah unggahan publik di akun Tumblr milik Yahoo, Mayer mengatakan, "Saya menyatakan keinginan saya bahwa bonus saya akan didistribusikan kepada karyawan pekerja keras perusahaan kami, yang memberikan kontribusi begitu banyak atas keberhasilan Yahoo pada 2016."

    Alasan Mayer menyerahkan penghargaan ekuitas adalah bahwa dia adalah CEO perusahaan dan bahwa pelanggaran 2014 terjadi selama masa jabatannya.

    Pelanggaran itu, menurut Yahoo, dilakukan oleh aktor yang disponsori negara (seseorang yang bekerja untuk pemerintah lain), yang mempengaruhi data setidaknya 500 juta pemilik akun Yahoo.

    USA TODAY | ERWIN Z


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.