200 Rumah Khusus Dibangun di Teluk Wondama Papua Barat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, memberikan keterangan terkait runtuhnya jembatan di daerah Pangandaran, 10 Oktober 2016. TEMPO/Grandy Aji

    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, memberikan keterangan terkait runtuhnya jembatan di daerah Pangandaran, 10 Oktober 2016. TEMPO/Grandy Aji

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun rumah khusus di Papua, selain jalan dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Pembangunan itu dilakukan dalam rangka merealisasikan cita-cita pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran.

    “Rumah khusus adalah program Kementerian PUPR yang dibangun untuk daerah-daerah perbatasan, guru, tenaga medis, daerah tertinggal, pulau terluar, masyarakat nelayan dan pemuka agama," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 1 Maret 2017.

    Berita lain: Siapkan Rp1,2 Triliun,Kementerian PUPR: Jalan di Jatim Mulus

    Dalam tiga tahun terakhir, Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR membangun 150 rumah khusus di Teluk Wondama, Papua Barat. Pada 2015, dibangun 50 rumah khusus di Kampung Tandia Kanda, Kampung Senderawoi, Kampung Miei, dan Kampung Moru Sanduai.

    Untuk 2016, Kementerian PUPR membangun 100 rumah khusus di Distrik Wasior. Tahun ini, Kementerian akan membangun 50 rumah khusus di Desa Isey Distrik Rasiei. "Ini bisa membantu masyarakat di wilayah timur Indonesia untuk memiliki rumah layak huni," kata Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin.

    Selain itu, pada 2017, Kementerian PUPR mengalokasikan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau bedah rumah untuk 300 unit di Teluk Wondama. Syarif pun mendorong kepala-kepala daerah memiliki program perumahan mengingat perumahan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pemerintah daerah.

    Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi menyambut baik bantuan perumahan tersebut. Menurut dia, sebanyak 47 ribu jiwa masih tinggal di rumah yang tidak layak huni. Bahkan, ada yang belum memiliki rumah. Dia berjanji memprioritaskan program perumahan di daerahnya agar kualitas hunian di sana bisa meningkat.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.