Sebelum Raja Saudi Datang, Darmin Bawa Delegasi ke Iran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Perekonomian Darmin Nasution. TEMPO/Subekti

    Menko Perekonomian Darmin Nasution. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Teheran - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memimpin delegasi Indonesia ke Iran pada Ahad, 26 Februari 2017, hingga hari ini, waktu Iran, untuk menindaklanjuti hasil kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke negara tersebut sebelumnya.

    Delegasi yang dipimpin Darmin terdiri atas Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, Duta Besar RI untuk Iran, sejumlah pejabat tinggi dan jajaran eksekutif Badan Usaha Milik Negara, serta pengusaha nasional.

    Kunjungan ke Iran itu dilakukan menjelang kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret nanti. Secara politik, Iran dan Saudi sudah lama terlibat konflik.

    Baca: Menteri Basuki Ingin Pemda Tambah Ruang Terbuka Hijau

    Dalam kunjungan itu, Darmin menemui Presiden Iran Hassan Rouhani dan Wakil Presiden Bidang Ilmu Pengetahuan Iran Sorena Sattari. Delegasi Indonesia pun bertemu dengan Gubernur Bank Sentral Iran, Menteri Perminyakan, serta Menteri Informasi dan Teknologi Komunikasi Iran.

    “Saya telah bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani dan menyampaikan surat dari Presiden Joko Widodo guna mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Iran,” kata Darmin, dikutip dari siaran pers Divisi Hubungan Masyarakat Kementerian Perekonomian, Ahad, 26 Februari 2017.

    Simak: Tunggakan Capai Rp 3,8 Miliar, PDAM Ini Putus Sambungan

    Mereka membahas isu strategis yang meliputi kerja sama energi, perdagangan, investasi, keuangan, perbankan, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, pariwisata, dan mendorong peran aktif dari kerja sama dunia usaha kedua negara. Indonesia dan Iran juga sepakat mempererat kembali hubungan ekonomi bilateral setelah sempat mengalami kemunduran selama pengenaan sanksi ekonomi atas isu nuklir oleh Barat kepada Iran.

    Indonesia, menurut Darmin, mengapresiasi pelonggaran sanksi ekonomi melalui kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) antara Iran dengan negara P5+1, yang terdiri atas Amerika Serikat, Cina, Rusia, Perancis, Inggris, dan Jerman. Hal itu dinilai sebagai momentum yang baik untuk mendorong kembali hubungan antar-kedua negara serta menggali potensi kerja sama baru di masa depan.

    Salah satu poin penting dalam kunjungan delegasi Indonesia kali ini adalah penyampaian proposal pengelolaan dua ladang minyak di Ab Teymour dan Mansouri, Provinsi Bangestan, Selatan Iran, oleh Pertamina kepada National Iranian Oil Company (NIOC).

    Adapun hasil studi Pertamina menunjukkan potensi cadangan pada masing-masing ladang tersebut mencapai lebih dari 1,5 miliar barel, dengan potensi produksi yang dapat ditingkatkan hingga lebih dari 200 ribu barel per hari per ladang.

    Pada sektor energi pun dijajaki rencana pembelian Liquefied Natural Gas (LNG) dengan harga kompetitif untuk pemenuhan kebutuhan pembangkit listrik, kawasan industri (petrokimia dan pupuk), serta kawasan ekonomi khusus domestik. Delegasi pun mengundang investor Iran untuk berinvestasi pada pembangunan kilang minyak di Indonesia.

    Simak: PDAM Ini Kantongi Tunggakan Pelanggan Sejak 1982

    Ada pula pembahasan kerja sama sektor keuangan dan perbankan. Inti pembicaraan itu, menurut Darmin, untuk mewujudkan transaksi keuangan yang semakin aman, cepat, dan mudah antar-kedua negara pasca-pelonggaran sanksi ekonomi. Karena itu, Bank Indonesia dan Bank Sentral Iran menandatangani kesepakatan terkait dengan kebanksentralan meliputi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran melalui pembentukan policy dialogue, pertukaran informasi, serta capacity building.

    Untuk sektor perdagangan dan investasi, kedua negara mendorong penyelesaian pembahasan preferential trade agreement (PTA) untuk mengeliminasi hambatan tarif produk. PTA diyakini bisa meningkatkan daya saing produk antara kedua negara serta mewujudkan perdagangan yang berkelanjutan.

    Baca: BTN-SBM ITB Cetak 119 Pengembang Properti Baru

    “Tadi, kita juga menekankan pentingnya penyelesaian PTA antara Indonesia dan Iran pada Juni 2017. Ini penting agar daya saing produk unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), kopi, karet, tekstil dan kertas, bisa ditingkatkan. Kita juga ingin menjadikan Iran tidak hanya sebagai pasar, tapi juga penghubung di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah,” ujar Darmin.

    Tak lupa dibahas juga kerja sama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri strategis, dan pariwisata. Dalam membahas itu, kedua negara sepakat memperhatikan pengembangan teknologi nano, bioteknologi, dan science techno park.

    Adapun di industri strategis, kedua negara akan mendorong penguatan kerja sama pada bidang perawatan mesin pesawat terbang, pengembangan helikopter, serta pesawat tanpa awak (drone) untuk kebutuhan sipil.

    Selain pertemuan pejabat tinggi Indonesia dan Iran, ada pula pertemuan-pertemuan bisnis antara pelaku usaha. Adapun pihak Indonesia yang datang, di antaranya PT Pertamina, Pupuk Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan beberapa lainnya.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.