Sabtu, 18 Agustus 2018

Enam Bandara Merugi, Ini Penjelasan Angkasa Pura I  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Danang S Baskoro, hadir dalam acara peringatan ulang tahun PT Angkasa Pura I ke-53 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Februari 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Danang S Baskoro, hadir dalam acara peringatan ulang tahun PT Angkasa Pura I ke-53 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Februari 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Enam bandara di Indonesia yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero) tercatat mengalami kerugian. Rendahnya daya beli masyarakat dan arus penerbangan ditenggarai menjadi penyebab kerugian tersebut.

    "Memang banyak bandara yang terpaksa merugi, secara bisnis aeronautika dan nonaeronautika sama-sama belum maksimal," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Danang S. Baskoro saat menghadiri peringatan ulang tahun perusahaan ke-53 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Februari 2017.

    Secara bisnis aeronautika, menurut Danang, jumlah penerbangan menuju dan dari keenam bandara tersebut memang lebih rendah. "Secara nonaeronautika, seperti penjualan produk, sewa kios, juga sepi," ujarnya.

    Baca: Pengamat: Surat Sudirman Said Jadi Kelemahan Hadapi Freeport

    Keenam bandara tersebut, ucap Danang, adalah Bandara Partimura, Ambon; Bandara Frans Kaisiepo, Biak; Bandara El Tari, Kupang; Bandara Sam Ratulangi, Manado; Bandara Adi Sumarmo, Solo; dan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Danang menambahkan, persoalan keterbatasan infrastruktur pariwisata di daerah-daerah tersebut bukanlah penyebab rendahnya arus penerbangan.

    "Bagaimanapun, kuncinya adalah penaikan daya beli ekonomi dan pemulihan ekonomi, selain juga pada aspek keamanan,” ungkapnya. 

    Dia mencontohkan bagaimana mobilitas pergerakan manusia dari dan menuju daerah Ambon masih rendah, meski sudah lebih baik sejak terjadinya kerusuhan di daerah tersebut.

    Baca: Dibanding KK, IUPK Dinilai Lebih Menguntungkan bagi Freeport

    "Selama ini, kerugian dari keenam bandara tersebut ditutupi dengan mekanisme subsidi silang dari bandara yang mencatatkan profit, seperti Surabaya," kata dia. Pemerintah, menurut Danang, tentu tidak bisa menutupi kerugian tersebut dengan dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Oleh karena itu, ditanggung oleh Angkasa Pura I dengan mekanisme subsidi silang tersebut.

    Akibat hal ini, Danang mengakui tidak bisa lantas menyamakan kualitas bandara di Indonesia dengan negara lain. "Saya kalau hanya satu lawan satu antara Bandara Juanda (Surabaya) dengan Bandara Incheon (Korea Selatan), saya berani, tapi kenyataannya Indonesia kan punya lebih banyak bandara yang harus diakomodir." Angkasa Pura, menurut dia, harus bisa memastikan pelayanan di setiap bandara di Indonesia sesuai dengan standar yang ada.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.