Uang Baru Pecahan Rp10.000 Paling Disukai Warga Papua

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembaran mata uang Rupiah edisi baru. ANTARA/Adwit B Pramono

    Lembaran mata uang Rupiah edisi baru. ANTARA/Adwit B Pramono

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Joko Supratikto menyebut pecahan Rp10.000 bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo paling diminati warga Papua. Ia menduga karena faktor kedekatan emosional.

    "Sampai sekarang yang paling diminati, sekitar 25 persen (dari total yang telah diedarkan) adalah pecahan Rp10.000 yang gambarnya Pak Frans Kaisiepo, jadi masyarakat Papua sendiri bangga dengan adanya gambar Frans Kaisiepo di situ," kata Joko di Jayapura, Rabu, 25 Januari 2017.

    Frans Kaisiepo adalah gubernur Papua periode 1964-1973. Untuk mengenang jasa pahlawan nasional asal Papua itu,  namanya diabadikan menjadi mana bandara di Biak yaitu Bandara Frans Kaisiepo. 

    Joko menjelaskan pada uang Rupiah tahun emisi 2016, pemerintah pusat memberi porsi cukup banyak  ciri khas Papua yang tidak hanya dari sisi pahlawan nasional. "Sebenarnya tidak hanya itu gambar khas Papua di uang NKRI, ada gambar tari tifa, Raja Ampat dan anggrek hitam," kata dia.

    Joko memandang sejauh ini respon masyarakat Papua uang Rupiah cukup baik meski banyak berita miring yang bermunculan melalui media sosial dan juga media massa.

    "Ini hal yang luar biasa, ternyata di Papua penerimaan terhadap uang baru cukup bagus, dan dari berbagai kegiatan sosialisasi yang kita lakukan melalui media atau secara langsung, tanggapan masyarakat positif. Artinya mereka mau menerima dan kebanyakan tidak termakan oleh isu," sambung Joko.

    Bank Indonesia sudah mengedar uang baru ke Papua sebesar Rp14 miliar dan angka ini tergolong sedikit dibanding dengan daerah lain di Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.