Tekan Impor, Pertamina Tingkatkan Operasi Kilang Minyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SVP Engineering Operation & Technology Development Direktorat Gas PT Pertamina, Tanuji (kiri) dan Corporate Deputy Director Technology Engineering & Asset PT KAI Dwiyana, saat uji coba operasional kereta pembangkit Diesel Dual Fuel berbahan bakar LNG Argo Parahyangan di Bandung, 20 Desember 2016. Ini merupakan kereta diesel dengan 80 persen bahan bakar LNG dan 20 persen solar pertama di Asia Tenggara. TEMPO/Prima Mulia

    SVP Engineering Operation & Technology Development Direktorat Gas PT Pertamina, Tanuji (kiri) dan Corporate Deputy Director Technology Engineering & Asset PT KAI Dwiyana, saat uji coba operasional kereta pembangkit Diesel Dual Fuel berbahan bakar LNG Argo Parahyangan di Bandung, 20 Desember 2016. Ini merupakan kereta diesel dengan 80 persen bahan bakar LNG dan 20 persen solar pertama di Asia Tenggara. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) melakukan lima langkah prioritas untuk meningkatkan operasional kilang pengolahan minyak sehingga dapat memperkuat ketahanan pasokan sekaligus menurunkan impor BBM.

    Direktur Pengolahan Pertamina Toharso dalam rilis di Jakarta, Selasa, mengatakan kelima langkah perbaikan tersebut mencakup aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (health, safety, security, and environment/HSSE), keandalan, efisiensi, optimasi, serta perbaikan organisasi dan pengembangan SDM.

    "Kelima aspek tersebut, sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pasokan BBM," katanya.

    Dari aspek HSSE, menurut dia, fokus utama adalah tidak ada kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kejadian fatal (fatality).

    Selain "fatality", lanjutnya, Pertamina akan seaktif mungkin mencegah terjadinya pencemaran akibat operasi kilang.

    Terkait keandalan kilang, Toharso mengatakan akan difokuskan pada upaya tidak adanya penghentian operasi tanpa rencana (zero unplanned shutdown). Contohnya, dengan konsisten dan disiplin pada jadwal pemeliharaan kilang baik yang bersifat parsial maupun menyeluruh.

    "Kami juga akan meningkatkan efektivitas inspeksi sehingga dapat diketahui secara lebih dini sebelum alat rusak. Pada prinsipnya apabila kami bisa tekan angka kehilangan waktu operasi, kinerja kilang semakin baik dan produksi bisa sesuai target dan pada akhirnya pasokan BBM nasional semakin andal," ujarnya.

    Langkah ketiga adalah efisiensi dengan fokus utama mengurangi kehilangan masa kerja (working losses) hingga 50 persen di bawah realisasi pada 2016.

    Selain mengurangi "working losses", Pertamina juga akan melakukan pengadaan bahan maupun peralatan kilang secara terpusat sehingga dapat menurunkan biaya.

    Aspek keempat optimasi yang difokuskan pada upaya peningkatan imbal hasil (yield valuable product) menjadi 79 persen dari saat ini 74 persen.

    Selain itu, Pertamina juga menargetkan penurunan biaya operasi hingga menjadi hanya tiga dolar AS per barel.

    "Contoh seperti Kilang Kasim, Sorong, operasinya biasanya hanya sekitar 120 hari dalam setahun. Kami ingin tingkatkan. Apabila masalahnya ketiadaan crude (minyak mentah), kami akan bangun infrastruktur yang memungkinkan crude bisa masuk memenuhi kebutuhan feedstock (bahan baku) Kasim," katanya.

    Aspek terakhir adalah organisasi dan pengembangan SDM yakni perubahan organisasi pada Oktober 2016 melalui pembentukan Direktorat Pengolahan yang melahirkan kebutuhan formasi sumber daya manusia.

    "Oleh karena itu, kami akan kembali membuka peluang kerja baru untuk mengisi posisi-posisi engineer yang akan ditinggalkan oleh pekerja yang memasuki usia pensiun," ujar Toharso.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.