Perusahaan Jerman Cari Mitra

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penambang memasangkan kayu di rel saat melakukan aksi protes menuntut pemerintah untuk menyediakan dana untuk membuka kembali tambang batubara Santa Ana, di kota Curanilahue, Chile, 26 Desember 2016. REUTERS/Juan Gonzalez Galaz

    Seorang penambang memasangkan kayu di rel saat melakukan aksi protes menuntut pemerintah untuk menyediakan dana untuk membuka kembali tambang batubara Santa Ana, di kota Curanilahue, Chile, 26 Desember 2016. REUTERS/Juan Gonzalez Galaz

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan asal Jerman, PT Zemag Clean Energy Techology GmbH sedang mencari mitra lokal untuk mengembangkan gasifikasi batubara di Indonesia.

    "Sedang menjajaki dan mencari local partner untuk membuat demonstration project," kata Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono kepada ANTARA News di Jakarta, Jumat, 13 Januari 2017.

    Perusahaan tersebut telah menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia untuk mengembangkan turunan dari gasifikasi batubara.

    Sigit menilai, dibutuhkan investasi sekitar Rp13 triliun untuk menghasilkan 1.000 metrik ton turunan gasifikasi batubara.

    Ia menambahkan, pabrik untuk pengembangan gasifikasi batubara bisa dibangun di wilayah Kalimantan.

    Menurutnya, industri batu bara di Indonesia masih menarik bagi investor asing di tengah perlambatan ekonomi global.

    Jika dihitung, dalam masa pengujian dapat mengubah 100.000 ton batubara menjadi 3.600 million metric british thermal unit (mmbtu) gas per hari.

    Jika gas yang dihasilkan tidak digunakan, lanjut Sigit, bisa dipakai untuk industri dalam negeri dengan harga 4 dollar AS hingga 5 dolar AS per mmbtu.

    "Investasi ini akan menghasilkan nilai tambah yang besar bagi industri dalam negeri. Untuk gasnya bisa dipakai di dalam negeri, tinggal dibangun infrastrukturnya," ujar Sigit.

    Sigit menambahkan, pihaknya akan mencarikan rekanan lokal untuk bekerja sama dengan Zemag dalam membangun industri gasifikasi batubara.

    "Kita punya cukup banyak batu bara yang berkalori rendah dan perlu dikonversi untuk menjadi gas sintetis, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan metanol. Kemungkinan perusahaan asal Jerman tersebut bekerjasama dengan perusahaan lokal agar projectnya bisa berjalan," kata Sigit.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?