Bank Dunia Pertahankan Proyeksi Ekonomi Indonesia di 2017  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Juni 2016. Penghapusan ribuan perda tersebut karena menghindari polemik sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi baik makro maupun mikro. TEMPO/Subekti

    Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Juni 2016. Penghapusan ribuan perda tersebut karena menghindari polemik sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi baik makro maupun mikro. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Washington - Bank Dunia dalam laporannya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,3 persen di 2017. Prediksi itu dipertahankan dibandingkan proyeksi yang diumumkan Bank Dunia pada Juni 2016. Secara total, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1 persen menjadi 2,7 persen dan negara-negara berkembang juga dipangkas 0,1 persen menjadi 4,2 persen tahun ini.

    Bank Dunia mengungkapkan Indonesia sebagai negara pengekspor komoditas terbesar di kawasan Asia Timur dan Pasifik mampu secara cepat mengantisipasi penurunan harga komoditas.

    Baca: Reformasi Pajak, Sri Mulyani Gandeng Lembaga Internasional

    “Selain itu, Indonesia mampu mengakomodasi kebijakan moneter yang membantu menopang permintaan domestik, sehingga ekonomi masih tetap tumbuh moderat sebesar 5,1 persen di 2016,” demikian laporan Bank Dunia yang berjudul “Global Economic Prospect” yang dipublikasi Selasa, 10 Januari 2017.

    Pertumbuhan negara-negara pengekspor komoditas, kata Bank Dunia, diestimasikan sebesar 4,9 persen pada 2016. Secara jangka menengah, negara-negara ini diprediksi tumbuh rata-rata 5,3 persen hingga 2018 karena dinilai berhasil mengantisipasi penurunan harga komoditas. Ekonomi Indonesia yang tahun lalu diestimasi tumbuh 5,1 persen, akan mampu tumbuh rata-rata 5,4 persen antara 2017-2019.

    “Indonesia utamanya ditopang oleh melonjaknya investasi swasta, sedangkan Malaysia diproyeksikan pulih dan tumbuh rata-rata 4,5 persen pada 2017-2019,” ujar laporan Bank Dunia.

    Baca: Bank Dunia Klaim Kemiskinan Global Turun 10 Persen

    Untuk kawasan Asia-Pasifik dan Timur, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan 6,2 persen tahun ini. Proyeksi itu mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan Cina sehingga mempengaruhi pertumbuhan di kawasan. Ekonomi Cina diprediksi hanya akan tumbuh 6,5 persen di 2017. Kebijakan makroekonomi Cina diperkirakan akan mampu menopang permintaan domestik meskipun permintaan ekspor melambat, melemahnya investasi swasta, serta beberapa sektor industri yang sudah over kapasitas.

    “Pertumbuhan negara-negara pengimpor komoditas tidak termasuk Cina, diproyeksikan tetap stabil, dengan pengecualian Thailand. Sebab pertumbuhan Thailand diprediksi mengencang ditopang oleh membaiknya kepercayaan dan kebijakan yang akomodatif,” kata laporan Bank Dunia.

    Tahun ini ekonomi Thailand diprediksi tumbuh mengencang jadi 3,2 persen dibandingkan estimasi 2016 sebesar 3,1 persen. Tidak berbeda ekonomi Filipina juga bakal mengencang tumbuh 6,9 persen di 2017 dibandingkan estimasi 2016 sebesar 6,8 persen. Ekonomi Vietnam justru diprediksi sangat melambat menjadi hanya tumbuh 6 persen pada 2016 dibandingkan 2015 yang tumbuh 6,7 persen. Pada tahun ini ekonomi Vietnam diprediksi kembali mengencang 6,3 persen.

    ABDUL MALIK | GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.