Tekan Dwelling Time Jadi 2 Hari, Ini 3 Langkah INSW  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas. ANTARA/Dhoni Setiawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas. ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Untuk memenuhi paket kebijakan pemerintah XV, Indonesia National Single Window (INSW) telah menyiapkan strategi yang diharapkan mampu menekan dwelling time atau waktu tunggu hingga 2 hari.

    Deputi Operasi dan Pengembangan Sistem Pengelola Portal INSW Muwasiq M. Noor mengatakan pihaknya memiliki tiga langkah penting yang harus digenjot. Pertama, INSW akan mendorong integrasi rekomendasi perizinan oleh dengan instansi penerbit izin dapat segera dijalankan secara online atau single submission.

    "Itu akan memotong banyak waktu pre-clearance yang selama ini terjadi. Sebab, meskipun pengajuan perizinan di instansi sudah online, persyaratan rekomendasi dari instansi pemberi rekomendasi masih dibawa manual. Jadi dari hulu ke hilir belum total elektronik," ujarnya kepada Bisnis, Senin, 9 Januari 2017.

    Kedua, dia mengungkapkan INSW menargetkan untuk menjalankan single submission tersebut secara penuh pada 2017. Penerapan secara penuh ini, kata Muwasiq, diyakini akan memotong waktu pelaku usaha yang selama ini harus mondar-mandir mengurus izin ke instansi pemberi rekomendasi.

    Dalam single submission, INSW akan berperan mendistribusikan permohonan ke sistem online milik instansi terkait. Dengan cara ini, eksportir atau importir tidak perlu menunjukkan dokumen asli untuk keperluan rekomendasi.

    Ketiga, dia mengungkapkan integrasi Inaportnet dengan INSW pada kuartal I 2017. "Dengan Inaportnet, kita sedang uji coba integrasi. Diawali dengan integrasi informasi dwelling time dari terminal operator, data pergerakan barang, dan container sudah diintegrasikan ke masing-masing Pelindo," ujarnya.

    Kemudian, data tersebut dikirim ke Inaportnet serta INSW. Integrasi antara Bea Cukai, K/L, otoritas pelabuhan, operator pelabuhan, syahbandar, dan operator angkutan barang di pelabuhan sangat penting.

    Jika Inaportnet tidak segera diintegrasikan dengan INSW, dia menilai Tradenet yang sudah ada di INSW tidak akan efektif karena tidak diikuti kecepatan pelayanan barang. Rencananya, INSW akan melakukan peninjauan integrasi dengan Inaportnet serta operator terminal pada minggu ini.

    Setelah integrasi Inaportnet dan optimalisasi single submission, Muwasiq mengungkapkan pihaknya akan mengejar penerapan Indonesia Single Risk Management (ISRM).

    Seperti diketahui, INSW ditugaskan menjalankan fungsi ISRM yang mengintegrasikan profil risiko masyarakat usaha agar seragam antara satu instansi dengan yang lain.

    "Bila ini dapat berjalan, dia yakin pelaku usaha tidak akan merasa ada perlakuan 'anak tiri' dan 'anak emas' dalam perizinan ekspor dan impor karena perilaku mereka nantinya yang akan menentukan apakah layak diberikan fasilitas atau malah layak dihukum bila melakukan pelanggaran, tidak ada lagi area abu-abu," ucapnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.