Pasokan Seret, Harga Cabai Stabil Tinggi di Beberapa Daerah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga cabai rawit merah di sejumlah daerah terpantau stabil tinggi karena seretnya pasokan komoditas tersebut. Di sejumlah pasar di Solo (Jawa Tengah), Tabanan (Bali), Malang (Jawa Timur), dan Palu (Sulawesi Tengah), terlihat harga cabai merah rawit masih tinggi.

    Di Pasar Tradisional Kleco Solo, misalnya, cabai rawit merah dijual Rp100 ribu per kilogram, cabai merah besar harganya Rp 30 ribu per kilogram dan harga rawit hijau Rp 50 ribu per kilogram. Harga cabai tersebut naik dari sebelumnya antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram.

    Menurut Sutinah (48), pedagang di Pasar Kleco Solo, harga cabai rawit merah dalam beberapa hari sempat turun menjadi Rp 90 ribu per kilogram. Tapi hari ini naik lagi karena pasokan dari sentra produksi seperti Cepogo Boyolali, dan Tawangmangu Karanganyar menurun dratis.

    Stok cabai di pasar dikabarkan menipis dan harganya sangat tinggi. "Kalau kondisi normal cabai rawit merah hanya dijual sekitar Rp 25 ribu per kilogram hingga Rp 30 ribu per kilogram," kata Sutinah, Senin, 9 Januari 2017.

    Nyonya Sarni (50), pembeli di Pasar Kleco, mengeluh karena harga cabai sekarang mahal sementara semua anggota keluarganya suka pedas. "Saya membeli cabai Rp 5.000 dapatnya bisa dihitung dengan jari," kata dia.

    Kepala Dinas Pasar, Perdagangan dan Perindustrian Kota Surakarta Subagyo mengatakan akan melakukan koordinasi dengan daerah sentra produksi yang surplus cabai untuk memasok komoditas itu ke daerahnya guna menstabilkan harga. "Kami ikuti harga cabai di pasar, setelah itu melakukan koordinasi dengan daerah sentra cabai," kata Subagyo.

    Subagyo mengatakan harga cabai naik karena saat musim hujan seperti sekarang banyak petani yang gagal panen karena tanamannya membusuk. "Ini karena dampak musim. Saya kira jika pasokan kembali lancar harga bisa normal," katanya.

    Di pasar-pasar tradisional di Malang raya, harga cabai rawit yang pekan lalu Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram sekarang naik menjadi Rp 95 ribu sampai Rp 105 ribu per kilogram. Sriatun, pedagang bumbu di Pasar Merjosari, Kota Malang, Senin, mengatakan dia terpaksa kulakan cabai sedikit karena harga naik. "Kalau berwarna merah dan segar semua, harganya sudah beda, Rp 115-120 ribu per kilogramnya," ujarnya.

    Sriatun berharap harga cabai segera turun, juga harga bahan pokok lain seperti telur, gula, dan beras juga naik. Pedagang lainnya, Masfiroh, juga hanya kulak cabai dua kilogram sehari dalam sepekan terakhir. "Harganya terlalu tinggi, saya tidak berani spekulasi kalau sampai tidak laku, saya ambilnya sedikit saja," katanya.

    Pedagang eceran di kampung-kampung pun beberapa hari terakhir tidak punya stok cabai rawit karena stok kosong di pasar induk seperti Pasar Induk Gadang (PIG) Kota Malang, Pasar Karangploso dan Mantung, Kabupaten Malang. Di Tabanan, Bali, harga cabai rawit yang menurut tim Tim Pengendali Inflasi Daerah Kabupaten Tabanan sebelumnya Rp 30 ribu per kilogram sekarang sudah naik menjadi Rp 80 ribu per kilogram.

    Harga cabai rawit yang sebelumnya rata-rata berkisar Rp 15 ribu per kilogram di Palu sekarang juga naik menjadi Rp 80 ribu per kilogram. "Ini tertinggi dalam beberapa bulan terakhir," kata Rumiati, seorang ibu rumah tangga di Palu.

    Kepala Seksi Usaha dan Sarana Perdagangan Dinas Perindustran dan Perdagangan Sulawesi Tengah, Rudi Zulkarnain, mengatakan, harga cabai rawit naik karena stok kurang akibat turunnya produksi cabai di Kabupaten Poso dan Sigi. "Ini yang memicu harga cabai di pasaran naik," kata Rudi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?