Spekulan Raup Untung Dari Pedasnya Harga Cabai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menunjukkan cabai rawit yang rusak di Desa Montok, Larangan, Pamekasan, Jawa Timur, 6 Januari 2017. Dalam sepekan terakhir harga cabai rawit di Madura naik dari Rp80.000 per kg menjadi Rp100.000 per kg karena sebagian besar tanaman tersebut gagal panen akibat faktor cuaca. ANTARA FOTO

    Petani menunjukkan cabai rawit yang rusak di Desa Montok, Larangan, Pamekasan, Jawa Timur, 6 Januari 2017. Dalam sepekan terakhir harga cabai rawit di Madura naik dari Rp80.000 per kg menjadi Rp100.000 per kg karena sebagian besar tanaman tersebut gagal panen akibat faktor cuaca. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Sukabumi - Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, dan KUKM Kabupaten Sukabumi Asep Japar mengatakan tingginya harga cabai disebabkan rantai perdagangan atau tata niaga yang panjang.

    "Harga di tingkat konsumen terakhir atau pasar jauh lebih mahal dibanding dari petani. Sebab, alur distribusinya panjang karena dari petani tidak langsung ke pasar, tapi dikuasai dulu oleh pengepul, distributor, bahkan spekulan pun ikut bermain," katanya di Sukabumi, Minggu, 8 Januari 2017.

    Menurutnya, harga cabai diperparah dengan rendahnya produksi di tingkat petani karena gagal panen akibat cuaca buruk serta panen yang tidak maksimal. Kondisi itu membuat harga cabai sudah naik di tingkat petani.

    Baca: Inflasi 2017, BI: Antisipasi Harga Pangan Bergejolak

    Selain itu, kebutuhan cabai yang tinggi di masyarakat, sering dimanfaatkan para spekulan yang biasanya memainkan harga di tingkat pasar. Bahkan, Asep menduga, ada yang berani menyendat alur distribusi yang berimbas harga di tingkat konsumen terakhir, masyarakat, semakin tinggi.

    Alur distribusi yang panjang membuat keberadaan spekulan sulit terungkap dan pemerintah pun sulit membongkar kasus mafia harga kebutuhan masyarakat. Walaupun demikian, pemerintah selalu berupaya memberantas para spekulan yang berlaku curang ini.

    Bahkan, dari pantauan Asep, harga hasil pertanian lebih mahal dua kali lipat jika dibandingkan dengan harga di pasaran.

    Baca: Temuan Pemerintah, Bakteri Ini Terkandung di Benih Cabai

    "Jika rantai tata niaganya dipangkas atau dari petani langsung ke pasar, diyakini harga tetap stabil, dan jika ada kenaikan pun, tidak akan signifikan," katanya.

    Sementara Kepala Bidang Perdagangan Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Sukabumi Wahyu Setiawan mengatakan pihaknya tidak bisa mengintervensi harga cabai karena komoditas ini bukan merupakan kebutuhan utama masyarakat.

    Berbeda dengan barang kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras dan daging, pemerintah bisa melakukan intervensi melalui Perum Bulog untuk melakukan operasi pasar.

    "Dengan pemerintah yang tidak bisa mengintervensi harga, ditambah alur tata niaga yang panjang, dipastikan harga di tingkat konsumen terakhir akan bertambah tinggi," katanya.

    Untuk harga cabai rawit merah saat ini dijual di tingkat pengecer rata-rata Rp 90 ribu per kilogram. Kenaikan ini cukup cepat, bahkan hanya dalam sepekan. Padahal, untuk harga normal, komoditas ini tidak lebih dari Rp 30 ribu.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?