IHSG Bisa Tembus 6.200, Ini Syaratnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di akhir 2016, ditutup menguat 15,32 persen dibandingkan Januari 2016 di level 5.297. Tempo/Destrianita

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di akhir 2016, ditutup menguat 15,32 persen dibandingkan Januari 2016 di level 5.297. Tempo/Destrianita

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis ekonomi dari Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, memperkirakan indeks harga saham gabungan atau IHSG di sepanjang 2017 bisa mencapai level terbaik di 6.200. Namun dengan catatan pasar dalam keadaan bullish atau menguat.

    Adapun untuk keadaan normal, indeks diperkirakan akan bergerak pada 5.700 hingga 6.000. Sedangkan dalam keadaan terburuk, indeks justru bisa mengalami koreksi, bergerak di angka 5.000.

    “Karena kami khawatir kalau Cina akan terjadi krisis. Kalau ada krisis kemungkinan pasar tidak naik, malah koreksi, malah turun ke 5.000. Karena perdagangan kita lebih besar dengan Cina dan Amerika,” kata Hans kepada Tempo, Selasa, 3 Januari 2017.

    Menurut Hans, tahun ini sentimen pasar akan terfokus pada dua hal, yakni kemungkinan adanya perlambatan ekonomi di Cina, dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat seusai Trump dilantik menjadi presiden Amerika Serikat pada 20 Januari mendatang. “Memang ada sedikit risiko, karena Amerika berubah kebijakan ekonominya dan cenderung lebih protektif. Kebijakan ini mungkin mempengaruhi kita.”

    Hans menilai kondisi pasar Indonesia saat ini bisa dikatakan sedikit lebih mahal, karena ada potensi pertumbuhan ke arah positif. Untuk itu, ia menyarankan kepada investor untuk membeli saham ketika mengalami koreksi, karena adanya optimisme ke depannya harga akan naik.

    Adapun, Hans menilai inansial, infrastruktur, komoditas, dan konsumer bisa menjadi sektor pilihan bagi para investor. Misalnya untuk sektor perbankan, investor bisa mempertimbangkan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

    Untuk sektor infrastruktur, saham pilihan antara lain PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. Di sektor konsumer, Hans mempertimbangkan saham Indofood dan Unilever juga bisa menjadi pilihan, dan di sektor komoditas ada PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Adaro Tbk, dan PT Harum Energi Tbk.

    “Kalau kami sih lebih memilih saham yang menjanjikan fundamentalnya untuk jangka panjang,” ucap Hans.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.