Bursa Saham 2017, Untung atau Buntung?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad bersama para anggota Dewan Komisioner OJK lainnya dalam konferensi pers akhir tahun OJK di Gedung OJK, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 30 Desember 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad bersama para anggota Dewan Komisioner OJK lainnya dalam konferensi pers akhir tahun OJK di Gedung OJK, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 30 Desember 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.COJakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan pasar modal pada tahun ini masih positif seperti capaian tahun lalu. Sentimen domestik disebutkan masih mampu menyelamatkan pasar modal yang terpengaruh oleh potensi pelambatan pertumbuhan ekonomi Cina dan kemungkinan Bank Sentral Amerika menaikkan suku bunga hingga tiga kali lipat.

    "Masih positif karena salah satunya ada amnesti pajak. Ada komitmen dari para wajib pajak untuk memulangkan dana (repatriasi) sebesar Rp 143 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida di Bursa Efek Indonesia, akhir pekan lalu.

    Menurut Nurhaida, komitmen repatriasi itu ditargetkan akan masuk pada akhir tahun lalu. Mengenai potensi keluarnya modal asing, OJK melihat kondisi itu justru berpotensi meningkatkan modal domestik melalui mekanisme crossing saham. "Jadi belum tentu outflow. Kami nanti akan lihat lebih detail lagi," ujarnya.

    Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan capaian pasar modal pada tahun lalu menunjukkan pertumbuhan yang positif. Terbukti, pasar modal nasional menjadi yang terbaik di Asia-Pasifik dan tercatat sebagai yang terbaik kelima di dunia. 

    "Ini gambaran dari ekonomi kita yang memang tumbuhnya bukan yang tertinggi, tapi menunjukkan ekonomi dari 2015 ke 2016 sedikit meningkat," kata Darmin. 

    Indeks harga saham gabungan sepanjang 2016 mencatatkan kenaikan tertinggi di Asia-Pasifik. IHSG yang ditutup menguat 15,32 persen sepanjang 2016 menjadi 5.296 juga merupakan kenaikan tertinggi kelima di antara bursa-bursa utama dunia. Selama tahun lalu, bursa efek berhasil menghimpun dana mencapai Rp 674,39 triliun dan US$ 247,50 juta. 

    Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan bursa pada 2016 mampu mencatatkan beberapa rekor baru sepanjang sejarah. Salah satunya saham yang diperdagangkan di BEI pernah mencapai rekor tertinggi 433 ribu kali dalam sehari, yang menandakan bahwa saham yang terdaftar di bursa cukup likuid. 

    BEI juga mencapai level kapitalisasi pasar tertinggi hingga Rp 5.890 triliun. "Kami juga mencapai titik tertinggi per tahun untuk jumlah investor hingga 180 ribu," tutur Tito.

    Meski dalam beberapa tahun terakhir indeks di bursa menurun setelah terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat, Tito optimistis pada masa yang akan datang BEI bisa lebih baik lagi. 

    DESTRIANITA | ABDUL MALIK | KHAIRUL ANAM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.