Nelayan Kupang Alih Profesi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan berangkat melaut di Desa Luk Panenteng, Bulangi Utara, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 2 November 2016. Memiliki keindahan wisata bahari, wilayah Banggai Kepulauan dijadikan oleh pemerintah daerah sebagai salah satunya tempat untuk menarik wisatawan. ANTARA FOTO

    Nelayan berangkat melaut di Desa Luk Panenteng, Bulangi Utara, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 2 November 2016. Memiliki keindahan wisata bahari, wilayah Banggai Kepulauan dijadikan oleh pemerintah daerah sebagai salah satunya tempat untuk menarik wisatawan. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Maksi Effendi Ndun mengatakan para nelayan setempat tengah berhenti melaut akibat cuaca buruk yang diperkirakan berlangsung selama lima bulan dari Desember 2016 hingga April 2017.

    "Sekarang nelayan Kota Kupang sedang berhenti melaut karena cuaca buruk yang diperkirakan sampai akhir April atau awal Mei 2017," katanya, di Kupang, Senin, (2 Desember 2017).

    Dia menyebutkan, hampir semua nelayan yang mangkal di beberapa titik Kota Kupang seperti Tenau, Oeba, sampai Lasiana, berhenti melaut akibat cuaca buruk di perairan tersebut.

    "Hanya ada satu, dua, nelayan pancing dasar yang melaut,  itu pun di perairan dekat, di daerah selatan yang tidak terkena gelombang tinggi," ujar Maksi.

    Dia mengatakan, akibat musim paceklik (musim sepi karena ketiadaan hasil laut) yang berlangsung cukup lama, para nelayan di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memilih beralih profesi.

    "Pekerjaan nelayan di musim paceklik yah serobotan saja, tidak menentu, ada yang jadi buruh bangunan, tukang, kondektur angkutan, sopir, dan lain-lain sambil menunggu musim membaik," katanya.

    Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi HNSI NTT Abdul Wahab Sidin menambahkan musim paceklik karena cuaca buruk tersebut menyebabkan nelayan cakalang tidak bisa beroperasi.

    "Nelayan cakalang saat ini istirahat total karena ketiadaan umpan dari kapal bagan yang saat ini juga sedang parkir karena cuaca tidak bersahabat," kata Wahab yang juga salah satu nelayan yang bermarkas di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tenau.

    Dia menambahkan, akibat cuaca buruk tersebut maka para nelayan yang berbasis di Tenau hanya bertahan dengan berbagai aktivitas seperti membereskan pukat, memancing di sekitar perairan, bahkan ada pula beralih pekerjaan menjadi buruh.

    "Saat ini tidak ada pasokan ikan dari Tenau terutama cakalang. Adanya hanya ikan hasil pancingan di perairan dekat," ujar Abdul Wahab Sidin.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.