Kenaikan IHSG Terganjal Aksi Ambil Untung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Papan indeks saham Mandiri Sekuritas, Jakarta, Kamis (18/3). IHSG ditutup turun 19,020 poin (0,69%) ke level 2.737,242. Indeks LQ 45 juga turun 4,745 poin (0,87%) ke level 534,905. TEMPO/Dinul Mubarok

    Papan indeks saham Mandiri Sekuritas, Jakarta, Kamis (18/3). IHSG ditutup turun 19,020 poin (0,69%) ke level 2.737,242. Indeks LQ 45 juga turun 4,745 poin (0,87%) ke level 534,905. TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, memperkirakan indeks harga saham gabungan atau IHSG masih akan mengalami aksi window dressing dengan level resistan di 5.235. Ia memprediksi indeks akan bergerak pada rentang 5.161–5.260.

    Akan tetapi, menurut David, perlu diwaspadai aksi ambil untung yang berpotensi terjadi akibat kenaikan signifikan IHSG dalam 2 hari terakhir. “Pembelian selektif merupakan strategi yang tepat untuk hari ini,” katanya dalam pesan tertulis, Kamis, 29 Desember 2016.

    IHSG naik signifikan pada perdagangan kemarin. IHSG berhasil ditutup menguat 106,49 poin (2,09 persen) ke 5.209,44. Tercatat, 247 saham naik, 81 saham melemah, dan 104 saham stagnan.

    Volume perdagangan kemarin melibatkan transaksi 19,16 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,57 triliun. Seluruh sektor menguat. Sektor konsumer memimpin penguatan indeks sebesar 2,75 persen, disusul sektor konstruksi sebesar 2,61 persen.

    Aksi investor asing turut mendukung langkah penguatan IHSG. Asing menorehkan aksi beli bersih Rp 116,20 miliar di pasar reguler. Meski demikian, di seluruh pasar, tercatat aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 92,4 miliar.

    Menurut David, adanya aksi window dressing yang dilakukan emiten dan fund manager membuat IHSG berada di atas 5.200. Aksi window dressing ini terlihat dari pergerakan dana asing yang mencatat pembelian bersih dalam enam hari berturut-turut hingga sebesar Rp 2 triliun.

    Adapun dari pasar global, Dow Jones turun 0,56 persen atau 113 poin menjadi 19.833,68. Sedangkan indeks S&P 500 ditutup dengan penurunan 0,84 persen setelah seluruh sektor bergerak negatif.

    Koreksi yang terjadi ini disebabkan oleh adanya aksi profit taking setelah naik dalam beberapa waktu terakhir. Dari segi data ekonomi, penjualan rumah yang tertunda menyebabkan National Association of Realtors Home Sales Index turun 2,5 persen pada November.

    Sedangkan prediksi konsensus adalah kenaikan sebesar 0,4 persen pada kontrak penjualan rumah, menyusul kenaikan 0,1 persen pada Oktober. Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh lelang surat utang oleh Kementerian Keuangan AS berjangka waktu lima tahun senilai US$ 34 miliar dengan tingkat imbal hasil atau yield 2,05 persen.

    DESTRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.