Kredit Menganggur Bank Mandiri Lebih dari 20 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Direktur Finance&Treasury Bank Mandiri Pahala N Mansury, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo dan Direktur Retail Banking Bank Mandiri Tardi tengah berbincang usai paparan publik Bank Mandiri di Jakarta, 24 Agustus 2016. Bank Mandiri akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap I dengan target indikatif Rp 5 triliun sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan perbaikan struktur pendanaan bank dalam jangka panjang. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Direktur Finance&Treasury Bank Mandiri Pahala N Mansury, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo dan Direktur Retail Banking Bank Mandiri Tardi tengah berbincang usai paparan publik Bank Mandiri di Jakarta, 24 Agustus 2016. Bank Mandiri akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap I dengan target indikatif Rp 5 triliun sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan perbaikan struktur pendanaan bank dalam jangka panjang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Senior Executive Vice President Bank Mandiri Alexandra Askandar menuturkan kredit menganggur yang belum digunakan atau undisbursed loan Bank Mandiri di sektor infrastruktur masih cukup tinggi. Hal itu terjadi lantaran jumlah komitmen cukup besar dibanding kebutuhan debitor dalam penggunaan kreditnya.

    ”Jumlah lebih dari 20 persen, karena memang size-nya yang besar, seperti jalan tol kan komitmennya bisa triliunan, tapi dicairkannya per seksi,” ujar Alexandra, di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa, 27 Desember 2016.

    Baca: Bank Asing Siap Salurkan Kredit UMKM 20 Persen

    Meski demikian, menurut Alexandra, perseroan terus mendorong agar kredit yang digunakan dapat terus dioptimalkan. “Kami berharap dapat cepat terealisasi,” katanya.

    Baca: Pos Indonesia Gandeng Koperasi Kerja Sama Kredit Pensiun

    Alexandra mengatakan, khusus kredit sektor infrastruktur, hingga Oktober 2016, komitmen pembiayaan Bank Mandiri ke sektor infrastruktur mencapai Rp 96,9 triliun atau meningkat 53 persen dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total nilai itu, komitmen pembiayaan terbesar diberikan ke proyek-proyek di sektor transportasi yang mencapai Rp 37,1 triliun dan proyek pembangkit tenaga listrik sebesar Rp 32,1 triliun.

    GHOIDA RAHMAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.