Pengamat Opimistis Inflasi Jatim pada 2017 Terkondisi Rendah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat optimistis angka inflasi di Jatim pada 2017 tetap terjaga rendah dengan syarat masalah pasokan pangan membaik seperti pada tahun ini.

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Prof Candra Fajri Ananda mengatakan perkiraan rendahnya angka inflasi di Jatim juga mengacu pada target pemerintah pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang mematok angka inflasi tahunan mencapai 4%.

    “Kalau dari sisi pasokan pangan sama dengan tahun ini, saya optimisme target tersebut dapat dipenuhi,” ujarnya di Malang, Senin, 26 Desember 2016.

    Dengan asumsi produksi pangan bisa sama dengan 2016 yang baik, maka otomatis harga komoditas pangan bisa terjaga rendah. Jika harga pangan masih tinggi, hampir dipastikan penyebabnya bukan dari sisi pasokan, melainkan dari distribusi dan struktur pasar. “Karena itulah penting untuk dijaga agar dari sisi produksi pangan tetap baik seperti tahun ini,” ujarnya.

    Terkait dengan rencana pemerintah mencabut subsidi atas tarif listrik dengan beban 900 VA, menurutnya, tidak terlalu terpengaruh pada inflasi. Hal itu terjadi karena penyumbang terbesar justru pada pangan.

    Apalagi dalam menghapus subsidi atas tarif listrik beban 900 va, pemerintah rencananya melakukan secara bertahap sehingga pengaruhnya terhadap inflasi bisa diminimalisasi.

    Kepala Divisi Regional Bulog Jatim Witono dalam suatu kesempatan di Batu menegaskan dari sisi produksi sebenarnya posisi Jatim cukup strategis. Jatim menyumbang pangan terbesar secara nasional.

    Seperti beras, produksi dari Jatim dikirim untuk memenuhi kebutuhan di 21 provinsi. Begitu juga dengan gula. Di Jatim bisa disebut paling banyak berdiri pabrik gula. Karena itulah, pasokan pangan di tingkat regional mestinya tidak ada masalah karena produksinya banyak. Terutama di 2016.

    Dari sisi distribusi, katanya, Bulog akan terus berperan untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan utama. Melalui Rumah Pangan Kita (RPK), Bulog akan mendistribusikan pangan utama sampai ke tingkat rukun warga (RW).

    Dengan cara seperti itu, maka harga pangan diharapkan bisa stabil, tidak mengalami volatilitas. Sampai saat ini, jumlah RPK di Jatim berjumlah 1.059 unit, tetapi pada tahun depan akan ditambah lagi sebanyak 7.000 unit. Untuk mencapai target 1 RW 1 RPK, maka perlu didirikan 25.000 unit.

    Lewat RPK, maka dapat dijembatani dari sisi produsen dan konsumen. Produsen masih memperoleh untung jika harga pangan stabil, namun konsumen tetap mampu membelinya karena harganya masih dalam jangkauan kemampuan mereka.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?