2016, Total Emisi Obligasi dan Sukuk Mencapai Rp 113,29 T  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2016 adalah 84 emisi dari 56 emiten senilai Rp 113,29 triliun.

    Dengan demikian, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 320 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 312,46 triliun dan US$ 67,5 juta, yang diterbitkan oleh 109 emiten.

    Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono mengatakan Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI, hingga saat ini, berjumlah 92 seri dengan nilai nominal Rp 1.767,08 triliun dan US$ 1.240 juta, serta 7 emisi Efek Beragun Aset senilai Rp 3,02 triliun.

    Terdapat enam pencatatan obligasi korporasi di BEI di sepanjang pekan ini. Pertama adalah Obligasi Berkelanjutan II Bima Multi Finance Tahap I Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Bima Multi Finance dengan nilai nominal sebesar Rp 140 miliar.

    Lalu, Obligasi Subordinasi IDR Bank KEB Hana I Tahun 2016 serta Obligasi Subordinasi USD Bank KEB Hana I Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Bank KEB Hana Indonesia dengan total nilai Rp 244 miliar dan US$ 47,5 juta.

    Obligasi korporasi ketiga adalah Obligasi Berkelanjutan I Hutama Karya Tahap I Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai emisi Rp 1 triliun. Selanjutnya adalah Obligasi Berkelanjutan II Medco Energi Internasional Tahap III Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk dengan total nilai emisi Rp 274 miliar.

    Kelima adalah Obligasi Chandra Asri Petrochemical I Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. mulai dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan jumlah pokok sebesar Rp 500 miliar.

    Terakhir adalah Obligasi Subordinasi I Bank BKE Tahun 2016 yang diterbitkan oleh PT Bank Kesejahteraan Ekonomi dengan nilai nominal sebesar Rp 170 miliar.

    DESTRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.