Pertamina Klaim Rugi Akibat Harga Premium Tak Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa produk grease di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants di Jakarta, 28 Oktober 2016. PT Pertamina Lubricants juga memiliki satu unit produksi di Thailand. ANTARA/Andika Wahyu

    Petugas memeriksa produk grease di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants di Jakarta, 28 Oktober 2016. PT Pertamina Lubricants juga memiliki satu unit produksi di Thailand. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menanggapi penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tetap pada Januari-Maret 2017 meski harga minyak dunia tengah menunjukkan tren kenaikan.

    Perusahaan pelat merah itu disinyalir mengalami kerugian lantaran harus menomboki selisih biaya produksi BBM dengan harga jualnya jika harga BBM tidak dinaikkan awal tahun depan.

    "Untuk posisi saat ini, kami akan melihat bahwa harga minyak dunia masih fluktuatif sehingga nanti kita lihat lagi Februari, Maret, seperti apa. Kami yakin bahwa pemerintah memberi perhatian terhadap kinerja kami, di samping perhatiannya terhadap daya beli masyarakat," kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, 20 Desember 2016.

    Menurut dia, apapun keputusan pemerintah terhadap harga BBM, Pertamina akan berusaha melakukan efisiensi untuk mengurangi beban perseroan. "Tapi kami yakin pemerintah tidak akan membiarkan Pertamina dalam posisi rugi," ujarnya.

    Dwi menuturkan yang penting dilakukan saat ini adalah terus melakukan efisiensi meski belum ada kepastian kondisi harga minyak dunia ke depan. "Siapa yang tahu kalau nanti akan terjadi penurunan? Tetapi perhatian pemerintah atas daya beli masyarakat ini yang harus didukung," katanya.

    Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang menuturkan, sejak 1 Oktober lalu harga BBM seharusnya sudah naik mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Namun, kala itu Pertamina setuju harga solar tidak perlu naik. "Pertamina untung juga tidak ada gunanya karena kalau untung harus dikembalikan kepada negara," katanya.

    Kendati demikian, ia menilai kenaikan solar merupakan salah satu penyumbang inflasi karena penggunaannya untuk angkutan dan distribusi barang memang sulit. Pasalnya, jika harga solar naik akan mengerek kenaikan harga barang lainnya.

    "Ketika solar tidak naik, buat kami tidak masalah. Pasalnya kerugian pun dilihat berdasarkan hitungan tahun, bukan bulan," katanya.

    Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan fokus utama dalam penetapan harga BBM yang diputuskan tetap pada awal 2017 adalah agar premium, solar dan minyak tanah tidak mengalami masalah sehingga bisa menjaga daya beli masyarakat.

    "Fokusnya jangan Pertamina rugi berapa. Fokus pemerintah itu bagaimana premium, solar dan minyak tanah itu tidak mengalami kenaikan. Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga sesuai arahan Presiden Jokowi. Kita lihat tiga bulan ke depan," katanya.

    Pemerintah melalui Kementerian ESDM, menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) periode Januari-Maret 2017 tetap. Dengan ketetapan tersebut, maka harga jual jenis BBM tertentu, dan jenis BBM khusus penugasan tetap, yakni premium sebesar Rp6.450 per liter, solar bersubsidi tetap Rp5.150 per liter sedangkan minyak tanah Rp2.500 per liter.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.