Ketahanan Pangan Indonesia Terus Membaik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) dan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kiri) saat mengunjungi lahan pertanian padi di Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, 29 Oktober 2016. Benih unggulan padi yang dipanen dinamai Jarwo Super. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) dan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kiri) saat mengunjungi lahan pertanian padi di Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, 29 Oktober 2016. Benih unggulan padi yang dipanen dinamai Jarwo Super. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan ketahanan pangan Indonesia terus membaik sejak dua tahun terakhir dengan menurunnya dan berhentinya impor komoditas pangan pokok. Dia mengatakan indeks ketahanan pangan Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia pada 2016.

    "Tidak impor beras, tidak impor bawang, tidak impor cabai, jagung impornya turun 60 persen, dan diakui oleh The Economist Intellegence Unit. Dunia mengakui food security kita lompatannya tertinggi di dunia," ujar Amran di Kompleks Kementerian Pertanian Jakarta, Selasa, 20 Desember 2016.

    Berdasarkan Global Food Security Index (GFSI) 2016, ketahanan pangan Indonesia mengalami peningkatan terbesar di dunia dengan indeks 2,7 dan aspek ketersediaan pangan naik ke peringkat ke-66.

    BacaPresiden Jokowi: Sedih kalau Dengar Impor Pangan

    Selain itu, Amran menjelaskan, pasokan pangan cukup stabil dengan produksi pangan utama beras pada 2015 naik 6,64 persen dan pada 2016 naik 4,97 persen meskipun dalam kondisi iklim ekstrem El-Nino dan La-Nina. Selama dua tahun tersebut, produksi beras naik 8,3 juta ton atau setara Rp 38,5 triliun. "Pada tahun 2016 tidak ada rekomendasi dan izin impor beras premium, serta hambatan distribusi dan permainan perdagangan dapat kita redam," ucapnya.

    Sementara berdasarkan Angka Ramalan II BPS dan Kementerian Pertanian, produksi padi tahun 2016 sebanyak 79,14 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 3,74 juta ton atau 4,97 persen dibandingkan dengan tahun 2015.

    SimakHari Pangan Dunia, Setop Bergantung Makanan Impor

    Adapun produksi jagung sebanyak 23,16 juta ton pipilan kering, meningkat 3,55 juta ton atau 18,11 persen dibanding tahun 2015.

    Amran juga memaparkan pencapaian meredam kenaikan harga-harga pangan pokok setiap Desember yang diakibatkan masa paceklik. "Ini pertama kalinya selama 71 tahun Indonesia belum pernah terjadi, paceklik tidak terjadi di Desember. Biasanya harga-harga tinggi di Desember, sekarang harga turun, beras turun, bawang juga demikian," katanya.

    Menurut Amran, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras jajaran di Kementerian Pertanian dalam melaksanakan program Upaya Khusus Swasembada Pangan dan peningkatan produksi komoditas strategis, seperti padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, cabai, dan bawang merah.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.