Suku Bunga The Fed Naik 2017, Ini Antisipasi BI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) saat menghadiri acara peluncuran Strategi Nasional Keuangan Inklusif di Istana Negara, Jakarta, 18 November 2016. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) saat menghadiri acara peluncuran Strategi Nasional Keuangan Inklusif di Istana Negara, Jakarta, 18 November 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia telah mengantisipasi rencana Bank Sentral Amerika (The Fed) yang memberikan sinyal untuk kembali menaikkan suku bunga mereka (Fed Fun Rate atau FFR) tahun depan.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, keputusan The Fed yang akhirnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dua hari lalu menjadi 0,50-0,75 persen telah diantisipasi oleh pasar sebelumnya. Karena itu respon mereka tidak terlalu berlebihan.

    Adapun untuk tahun depan, menanggapi kemungkinan BI yang akan menaikkan kembali suku bunga secara bertahap sebanyak tiga kali, BI juga telah melakukan antisipasi. “Dengan settlement ini dalam simulasi kami, kami masukkan (FFR) naik tiga kali. Ini responnya dari sisi bunga Bank Indonesia sudah cukup,” kata Pery Warjiyo di Komplek Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 16 Desember 2016. 

    Baca
    Harga Pertamax, Pertalite, dan Dexlite Naik Mulai Hari Ini
    Dua Perusahaan Favorit Pencari Kerja di Indonesia
    Sultan Iskandar Muda, Bandar Udara Halal Terbaik Dunia

    Menurut Perry, yang sebaiknya diantisipasi adalah kemungkinan adanya sinyal dari The Fed yang dari waktu ke waktu berubah. Dengan begitu yang diantisipasi bukan lagi karena kenaikan suku bunga, namun reaksi pasara terhadap settlement yang akan dikeluarkan The Fed. Seperti yang terjadi selama ini, pasar akan cenderung bereaksi negatif terhadap sentimen kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika itu.

    “Umumnya itu, pasar akan mempricing. Kalau ada tekanan modal asing keluar, itu nggak akan besar. Tapi lebih ke temporer outflow, lalu inflow, lalu kembali outflow. Ini yang kami rasa dengan melakukan seting kebijakan suku bunga, dan devisa yang cukup. Saya yakin itu mampu untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di global,” kata dia. 

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.