Sri Mulyani Optimistis Prospek Ekspor Bakal Cerah Lagi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani melakukan tos dengan Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi, usai mengikuti sidang pembacaan putusan uji materi UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty), di Mahkamah Konstitusi, 14 Desember 2016. Dalam sidang putusan tersebut, MK menolak seluruh gugatan yang diajukan oleh empat pemohon terhadap undang-undang No 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, karena dinilai tidak terdapat adanya suatu hal yang bertentangan dengan undang-undang dasar. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Keuangan Sri Mulyani melakukan tos dengan Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi, usai mengikuti sidang pembacaan putusan uji materi UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty), di Mahkamah Konstitusi, 14 Desember 2016. Dalam sidang putusan tersebut, MK menolak seluruh gugatan yang diajukan oleh empat pemohon terhadap undang-undang No 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, karena dinilai tidak terdapat adanya suatu hal yang bertentangan dengan undang-undang dasar. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan prospek ekspor kembali cerah setelah tenggelam beberapa bulan terakhir. Nilai ekspor yang meningkat pada November 2016 sebesar US$ 13,50 miliar, ucap Sri Mulyani, disebabkan oleh harga komoditas dan volume perdagangan yang mulai membaik.

    "Beberapa kegiatan ekonomi di sektor pertambangan mencetak pertumbuhan positif," ujar Sri Mulyani di Hotel Mulia, Kamis, 15 Desember 2016.

    Baca:  Sri Mulyani Lega MK Tolak Gugatan Tax Amnesty

    Sri Mulyani melihat perdagangan di beberapa negara maju juga mulai meningkat. Amerika Serikat, misalnya, memutuskan menaikkan suku bunga Fed Fun Rate sekali tahun ini sebesar 0,25 basis poin. "Ini diiringi optimisme pertumbuhan lebih tinggi dari 1,9 persen," ucap Sri Mulyani. Ia memprediksi perekonomian Amerika bisa tumbuh di atas 2 persen tahun depan.

    Sri Mulyani optimistis tumbuhnya perekonomian Amerika Serikat tak akan berdampak negatif terhadap Indonesia. Pemerintah berjanji menciptakan iklim investasi yang kompetitif. "Kita punya mesin pertumbuhan, tapi butuh bahan bakar investasi," tuturnya.

    Baca: 8 Taipan Tak Punya NPWP, Istana: Harus Dikejar

    Badan Pusat Statistik melaporkan, ekspor November meningkat 5,91 persen dibanding ekspor Oktober 2016. Ekspor year-on-year juga meningkat 21,34 persen dibanding November 2015.

    Sementara itu, ekspor non-migas November 2016 mencapai US$ 12,39 miliar atau naik 6,04 persen dibanding Oktober 2016. Nilai ini juga naik 28,75 persen ketimbang ekspor November 2015.

    Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-November 2016 mencapai US$ 130,65 miliar atau menurun 5,63 persen dibanding periode yang sama 2015. Peningkatan terbesar ekspor non-migas November terhadap Oktober 2016 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 366,1 juta (20,37 persen).

    PUTRI ADITYOWATI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.