Triwulan III/2016, Permintaan Uang Kartal Menurun di NTB

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Permintaan terhadap uang kartal pada triwulan III/2016 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dikarenakan terjadinya penurunan aktivitas ekonomi NTB.

    Penurunan tersebut terjadi di sisi konsumsi, baik rumah tangga, swasta, maupun pemerintah yang tumbuh lebih rendah sebesar 1,33% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,45% (y-o-y).

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat Prijono mengatakan, perlambatan konsumsi tersebut disebabkan oleh menurunnya pendapatan rumah tangga khususnya di sektor pertanian.

    Selain itu, belanja pemerintah juga mengalami penurunan akibat adanya pembatasan anggaran yang berdampak pada penurunan proyek bagi pihak swasta.

    "Selama triwulan III/2016 net inflow di Bank Indonesia secara tunai sebesar Rp982,63 miliar," ujar Prijono di Mataram, Rabu (14 Desember 2016).

    Prijono menjelaskan ini menunjukkan adanya uang tunai yang masuk ke Bank Indonesia atau cash inflow yang lebih besar dibandingkan yang keluar atau cash outflow.

    Tercatat, uang tunai yang masuk selama triwulan III/2016 cash inflow sebesar Rp2,78 triliun atau meningkat sebesar 44% (y-o-y). Sedangkan uang yang keluar atau cash outflow sebesar Rp1,79 triliun. atau urun sebesar 20,46% (y-o-y).

    Faktor dominan yang menentukan tren permintaan uang tunai adalah pola belanja pemerintah yang lebih rendah pada triwulan ini. Selain itu, menurunnya penghasilan rumah tangga berdampak pada belanja rumah tangga yang juga mengalami penurunan.

    Prijono menambahkan, berdasarkan pecahan uang yang beredar didominasi oleh pecahan besar yaitu Rp50.000 dan Rp100.000 sebesar 60,9% dari total lembar cash inflow dan 70,99% dari total lembar cash outflow pada triwulan III/2016 ini.

    "Pilihan masyarakat saat ini lebih cenderung untuk menggunakan pecahan besar dibandingkan pecahan kecil untuk melakukan transaksi," ujar Prijono.

    Kecenderungan tersebut antara lain diakibatkan oleh pembayaran gaji di beberapa instansi yang masih menggunakan uang tunai dan sebagian besar pecahan besar. Selain itu, sebaran mesin ATM di NTB mayoritas didominasi oleh ATM pecahan besar.

    Masyarakat juga lebih memilih menggunakan uang pecahan besar dengan pertimbangan efisiensi dalam melakukan transkasi.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.