Bakteri Cabe Asal Tiongkok Ancam Kedaulatan Pangan Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono saat menggelar konferensi pers terkait harga, distribusi, dan pasokan komoditas cabai dan bawang di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 7 November 2016. Tempo/Richard Andika Sasamu

    Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono saat menggelar konferensi pers terkait harga, distribusi, dan pasokan komoditas cabai dan bawang di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 7 November 2016. Tempo/Richard Andika Sasamu

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR, Hermanto, mengingatkan bakteri berbahaya yang terinfeksi dalam benih cabe yang ditanam oleh warga Tiongkok di Bogor bisa mengancam kedaulatan pangan Indonesia.

    "Bakteri berbahaya itu bisa menular dan menimbulkan penyakit pada tanaman lainnya, sehingga tanaman yang tertular bakteri itu selanjutnya akan berkurang produktivitasnya. Ini merupakan ancaman yang serius dan bisa mengakibatkan krisis pangan di Indonesia," kata Hermanto saat dikonfirmasi dari Padang, Selasa, 13 Desember 2016.

    Menurut dia bakteri tersebut harus bisa dimusnahkan tanpa bekas karena jika tidak Indonesia yang negara agraris bisa menjadi sangat tergantung pada pangan impor. "Saya mengapresiasi kinerja karantina pertanian yang bisa mendeteksi masuknya bakteri berbahaya ke Indonesia. Tapi mestinya, benih dari luar tidak boleh dulu ditanam di dalam negeri sebelum dipastikan aman," ujar Hermanto.

    Ia berharap ke depan karantina harus diperketat dan diperkuat dan tidak boleh lagi ada benih dan atau bibit dari luar yang ditanam di dalam negeri sebelum dipastikan aman. Hermanto juga mendesak pemerintah agar segera menindak warga Tiongkok penanam benih cabe terinfeksi bakteri ganas tersebut. "Preseden buruk ini mestinya menjadi sinyal bagi pemerintah agar mewaspadai penguasaan lahan pertanian oleh asing," katanya

    Sebelumnya Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian menyatakan benih cabai yang ditanam warga Tiongkok di Bogor positif terinfeksi bakteri berbahaya jenis Erwinia chrysantemi, organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1.

    Kementerian Pertanian menegaskan bahwa bakteri perusak tanaman Erwinia chrysanthemi sebelumnya tidak ada di Indonesia, baru ditemukan saat Badan Karantina dan Imigrasi mendapati warga Tiongkok menggunakan benih terinfeksi bakteri itu untuk bercocok tanam di Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu.

    "Kami menemukan yang kemarin dimusnahkan itu, ada dua kilogram dan tanaman yang sudah ditanam di lahan 4.000 meter," kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini.

    "Kami mengambil sampel, kami uji ke balai karantina. Hasilnya ternyata, positif Erwinia chrysanthemi. Itu ditemukan di sisa packing yang semua berbahasa China," katanya.

    Balai Besar Karantina Pertanian memutuskan untuk memusnahkan benih cabai yang kemasannya bertulisan bahasa China, serta tanaman cabai dan benih bawang daun yang terinfeksi bakteri Erwinia chrysanthemi pada Sabtu (8 Desember 2016).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.