Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Akan Stagnan di Level 5 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhamad Chatib Basri. Tempo/Aditia Noviansyah

    Muhamad Chatib Basri. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang akan stagnan di level 5% dalam beberapa tahun ke depan. Di tengah kompetisi global, industrialisasi dan perdagangan agak sulit mendorong ekonomi akibat pelemahan dan kebijakan proteksi negara.

    Jasa menjadi sumber ekonomi lain yang bisa diandalkan. Namun, Chatib berpendapat jasa membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Belanja pemerintah tahun depan diharapkan mampu mengerek daya beli masyarakat sehingga geliat ekonomi dapat tumbuh.

    "Angka pertumbuhan 5% yang paling baik di regional saat ini. Yang lain jauh lebih buruk dari kita. Filipina problem politik, begitu pula Thailand dan Malaysia. Indonesia politik paling stabil. Tapi Indonesia tempat pilihan untuk investasi masih terjadi. New normal pertumbuhan ekonomi itu 5%-5,5%," jelasnya, di Acara Bisnis Indonesia Economic Outlook 2017, di Jakarta, Rabu (7 Desember 2016).

    Terkait ketidakpastian global, Menteri Keuangan periode 2013-2014 mengatakan ruang pelonggaran moneter tahun depan hampir tak ada, bahkan bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga acuan dengan asumsi kebijakan Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump yang makin ekspansi.

    Aksi ekspansi fiskal oleh Donald Trump akan membuat ekonomi AS membaik sehingga dengan kondisi itu The Fed akan mungkin menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin di kuartal pertama tahun depan.

    "Ruang pelonggaran moneter BI hampir enggak ada. Tahun depan mungkin malah naikkan suku bunga. Saya enggakak percaya tingkat bunga turun akan membuat investasi naik karena enggak ada permintaan," ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.