Harga Kedelai Naik, Laba Perajin Tahu Turun 30 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengaduk kedelai yang didinginkan untuk di jadikan tempe di sentra industri kripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 31 Desember 2015. Kelurahan Sanan adalah pusat industri kripik tempe yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Malang. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Pekerja mengaduk kedelai yang didinginkan untuk di jadikan tempe di sentra industri kripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 31 Desember 2015. Kelurahan Sanan adalah pusat industri kripik tempe yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Malang. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.COJakarta - Naiknya harga kedelai dari Rp 7.800 per kilogram menjadi Rp 8.200 menyebabkan keuntungan para perajin tahu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berkurang sekitar 30 persen dari sebelumnya. 

    Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Kabupaten Bojonegoro Arifin, pada Selasa, 6 Desember 2016, mengatakan naiknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku pembuat tahu itu sudah berlangsung sebulan lalu.

    Perajin tahu, kata dia, tidak berani menaikkan harga tahu atau mengurangi porsi tahu karena takut menurunkan omzet penjualan. "Ya caranya perajin tahu mengalah mengurangi keuntungan, agar tahu tetap laku. Omzet perajin tahu stabil. Seperti saya, tetap bisa menjual tahu dengan bahan kedelai 1,5 kuintal per harinya," katanya.

    Mengenai penyebab kenaikan harga kedelai, ia hanya bisa memperkirakan itu karena pengaruh musim hujan atau cuaca sehingga pasokan kedelai ke daerahnya terhambat. "Mungkin musim hujan menghambat pasokan kedelai impor masuk ke Bojonegoro, sehingga harga kedelai naik," ujarnya.

    Selama ini, hasil produksi tahu Bojonegoro tidak hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal, tapi juga untuk konsumen di luar daerah, seperti Babat, Lamongan, Gresik, sampai Surabaya, juga ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

    Dalam memasarkan tahu, kata dia, sebagian besar ditangani langsung perajin dengan membawa ke sejumlah pasar ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Produksi tahu Ledokkulon tanpa bahan pengawet, sehingga harus langsung habis dalam sehari," katanya.

    Kepala Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Sumantri menjelaskan, pengembangan industri tahu di daerahnya menjadi obyek wisata kuliner terhambat keterbatasan anggaran yang dimiliki kelurahan. "Kami tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk melakukan penataan industri tahu Ledokkulon menjadi lokasi obyek wisata, karena kelurahan tidak memperoleh anggaran seperti desa". 

    Meski demikian, kata Sumantri, sejumlah perajin sudah menata lingkungannya dengan membuat lokasi yang bisa didatangi pengunjung untuk menikmati tahu secara langsung. "Sudah ada beberapa lokasi yang bisa dijadikan ajang wisata kuliner tahu," ucapnya didampingi penjabat Camat Kota, Mashuri. Di Kelurahan Ledokkulon, sekarang terdapat sekitar 150 perajin tahu, sehingga menjadikan daerah ini sentra tahu di Bojonegoro.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?