Kemenperin Ajukan Berau Jadi Zona Pengembangan Sawit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah lahan yang baru terbakar sudah ditanami olah bibit pohon sawit yang sekarang sedang investigasi polisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 30 Oktober 2015. Kerbakaran selama berminggu-minggu di hutan dan lahan gambut yang kaya karbon dari pulau Sumatera dan Kalimantan. REUTERS/Darren Whiteside

    Sebuah lahan yang baru terbakar sudah ditanami olah bibit pohon sawit yang sekarang sedang investigasi polisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 30 Oktober 2015. Kerbakaran selama berminggu-minggu di hutan dan lahan gambut yang kaya karbon dari pulau Sumatera dan Kalimantan. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian mengajukan Kawasan Industri Berau yang berdiri di lahan seluas 3.400 hektare di Kalimantan Timur, menjadi zona hijau pengembangan sawit atau palm oil green economic zone (POGEZ).

    Demikian disampaikan Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto usai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu Presiden Direktur PT Berau Nusantara Kawasan Industri (BNKI) Rauf Purnama.

    "Kita memang ingin ada satu di Kaltim, tadinya Pupuk Kaltim (Bontang), tapi lahannya masih belum siap. Nah, di Berau itu sudah siap," kata Panggah di Jakarta, Kamis 1 Desember 2016.

    Ia menyampaikan, Kawasan Industri Berau memiliki fasilitas yang terbilang diap karena memiliki pelabuhan, ketersediaan air, listri dan adanya industri pulp dan kertas yang sudah beroperasi.

    Sementara itu, lokasi yang ada di Kawasan Industri Bontang masih berupa lahan perhutanan, yang dinilai belum siap.

    "Kalau melihat kondisinya, pengembangannya sepertinya masih lama. Jadi, Berau yang paling siap," ujar Panggah.

    Diketahui, pemerintah Indonesia dan Malaysia serius untuk mendorong pengembangan industri olahan kelapa sawit yang mampu meningkatkan nilai tambah produk dan ramah lingkungan. Apalagi, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

    Untuk itu, Pemerintah Indonesia dan Malaysia menginisiasi kerja sama dibidang ekonomi melalui pembentukan lembaga persatuan negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

    Lembaga ini akan fokus membuat standardisasi operasional industri sawit mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari membuat standar yang sama untuk seluruh produsen sawit baik standar di kebun maupun di industri pengolahannya, hingga pembinaan petani sawit, manajemen stok, dan pembangunan POGEZ.

    Mengenai pembangunan POGEZ, kedua negara telah mengusulkan masing-masing tiga lokasi.

    Pihak Indonesia menginginkan pengembangan di Kawasan Industri Dumai, Riau; Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur; dan Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara; sedangkan pihak Malaysia, di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.