Penguatan Rupiah Jadi Katalis Positif IHSG

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung galeri BEI berbincang dengan latar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pengunjung galeri BEI berbincang dengan latar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi berpeluang menguat atau rebound terbatas.

    Penguatan itu menyusul peluang penguatan rupiah terhadap Dolar Amerika. Saham sektoral yang sensitif suku bunga (interest rate) seperti perbankan yang sudah koreksi berpeluang menguat.

    "IHSG diperkirakan bergerak dengan support 5.090 dan resisten di 5.130 cenderung rebound," kata David Sutyanto dalam pesan tertulisnya Selasa, 29 November 2016.    
                       
    Penguatan rupiah terhadap dolar AS 0,76 persen di Rp 13.467 kemarin berhasil mengurangi risiko pasar, di tengah masih derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham. Tekanan jual masih mendominasi perdagangan kemarin, terutama melanda saham perbankan, properti dan konsumsi. Kemarin penjualan bersih asing mencapai Rp 829,80 miliar.

    Namun aksi beli selektif terhadap sejumlah saham unggulan seperti saham Astra International Tbk (ASII), saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan sejumlah saham tambang logam berhasil mengurangi koreksi IHSG yang akhirnya tutup koreksi terbatas 7,53 poin  (0,15 persen) di 5.114,57.

    Sementara pasar saham global tadi malam terkoreksi dilanda aksi ambil untung dan pasar mulai mengantisipasi resiko atas kebijakan ekonomi Trump. Indeks saham di Uni Eropa, Eurostoxx, koreksi 1 persen di 3.016,80. "Di Wall Street, indeks saham utama terkoreksi dari level tertingginya setelah menguat selama empat hari pedagangan berturut-turut," tutur David.

    Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,28 persen dan 0,53 persen di 19.097,90 dan 2.201,72. Meski demikian, harga minyak mentah tadi malam naik 1,8 persen di US$ 46,92 per barel menyusul spekulasi kesepakatan pengurangan produksi menjelang pertemuan OPEC 30 November ini.

    Menurut David, koreksi di pasar saham global menyusul spekulasi pasar kenaikan harga saham sudah tinggi, yang dipicu sentimen kemenangan Trump sebagai presiden AS dan kebijakan meningkatkan belanja pemerintah sudah terlalu berlebihan.

    Adapun yield obligasi AS 10 tahun turun 4 basis poin ke 2,31 persen dan dolar AS terkoreksi ke level terendah dalam sepekan. Sedangkan harga emas kembali naik 1,2 persen di US$ 1195,80 per t.oz.

    DESTRIANITA K


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.