Rupiah Melemah, IHSG Diperkirakan Lanjutkan Koreksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tamu undangan memperhatikan layar pergerakan index saham di Lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 26 Agustus 2016. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan lagi, indeks mencatatkan penurunan 0,23% menjadi 5.441,50. Tempo/Tony Hartawan

    Tamu undangan memperhatikan layar pergerakan index saham di Lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 26 Agustus 2016. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan lagi, indeks mencatatkan penurunan 0,23% menjadi 5.441,50. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Melanjutkan perdagangan akhir pekan ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia masih dibayangi dengan meningkatnya risiko pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi di pasar global.

    Yield obligasi Indonesia jangka waktu (tenor) 10 tahun kemarin naik 1,82 persen di 8,16 persen. Yield obligasi AS tenor 10 tahun tadi malam di 2,35 persen atau naik 1,56 persen.

    Menurut analis ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto, kenaikan yield obligasi negara ini akan menekan pasar negara berkembang atau emerging market. Hal ini akan menekan pergerakan IHSG.

    "IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5.075 dan resisten di 5.130 cenderung di teritori negatif," kata David Sutyanto dalam pesan tertulisnya. Jumat, 25 November 2016.                         

    Pada perdagangan kemarin, pasar kembali didominasi tekanan jual menyusul meningkatnya risiko pasar emerging maket. Ini ditandai dengan penguatan dolar terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah hingga mendekati Rp13.600.

    "Kondisi ini merupakan dampak dari perkembangan global terutama di AS seiring ekspektasi naiknya inflasi dan yield obligasi yang memicu percepatan kenaikan bunga di AS dan berefek pada penguatan dolar AS," ucap David.

    Kemarin IHSG akhirnya tutup koreksi 104,37 poin (2 persen) di 5.107,62. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,5 persen di Rp 13.558. Posisi ini merupakan posisi terendah rupiah sejak awal Juni lalu.

    Meningkatnya volatilitas pergerakan IHSG dalam tiga pekan terakhir mencerminkan kenaikan risiko capital outflow seiring langkah The Fed yang akan melakukan normalisasi kebijakan moneternya meninggalkan rezim bunga murah.

    Di tengah risiko pasar yang meningkat, aksi beli spekulatif mendominasi saham berbasiskan komoditas seperti tambang logam, batubara, dan perkebunan yang merespon kenaikan harga komoditasnya di pasar global. Kemarin saham-saham perkebunan juga bergerak bullish seiring kenaikan harga CPO di Malaysia yang sudah mencapai RM 3000 per MT.

    Sementara Wall Street tadi malam libur memperingati Thanksgiving Day. Di zona Euro, indeks saham utama Eurostoxx tadi malam tutup menguat tipis 0,28 persen di 3.040,60. Sentimen pasar digerakkan pada perkembangan ekonomi Jerman yang stabil dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 yang menguat di 0,2 persen dibandingkan kuartal II.

    Adapun harga minyak mentah stabil di kisaran US$ 47,98 per barel menjelang pertemuan OPEC pekan depan. Harga tembaga melonjak tadi malam hingga 1,6 persen di LME mencapai US$ 5.858 per metric ton (MT). Harga timah naik tipis 0,11 persen di US$ 21.300 per MT dan harga nikel koreksi 0,65 persen di US$ 11.550 per MT.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.