Industri Fotovoltaik Dukung Program Pembangkit Listrik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan pemeriksaan turbin di area Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso Unit 2 di Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (16/8). PLTA Poso 2 dengan kapasitas daya 3 X 65 MW atau 195 MW dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun tersebut merupakan pembangkit karya anak bangsa yang menjadi salah satu penyuplai listrik untuk wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Palu. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Pekerja melakukan pemeriksaan turbin di area Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso Unit 2 di Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (16/8). PLTA Poso 2 dengan kapasitas daya 3 X 65 MW atau 195 MW dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun tersebut merupakan pembangkit karya anak bangsa yang menjadi salah satu penyuplai listrik untuk wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Palu. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri fotovoltaik berpotensi mendukung program pembangkit listrik 35.000 megawatt yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Fotovoltaik merupakan sektor energi dan penelitian yang berhubungan dengan aplikasi panel surya untuk energi dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik.

    “Dengan mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, Indonesia punya potensi energi dari surya sebesar 532,6 Giga Watt peak (GWp),” kata Sekjen Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat dalam acara Workshop Nasional Industri Fotovoltaik di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis, 24 November 2016.

    Syarif mengatakan, saat ini kapasitas produksi nasional untuk produk modul surya diestimasi mencapai 445 Mega Watt peak (MWp). Sementara itu, beberapa daerah di Indonesia telah terpasang PLTS dengan total kapasitas sekitar 25 MWp. “Hal tersebut menunjukkan bahwa masih perlu ditingkatkan lagi antara potensi dan realisasi PLTS,” tuturnya.

    Di samping itu, Syarif mengungkapkan, Indonesia memiliki kekayaan alam berupa pasir silika yang bisa diolah menjadi bahan baku pembuat lempengan sel panel surya. “Melalui workshop ini, diharapkan para stakeholder dapat mememberikan masukan untuk pengembangan batu atau pasir silika sebagai langkah hilirisasi dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor,” katanya.

    Ketua Pelaksana Workshop Didi Apriadi menjelaskan, kegiatan diskusi ini bertujuan mencari solusi bersama guna kelancaran implementasi di lapangan dalam memacu peran industri fotovoltaik untuk mendukung pembangunan PLTS di Tanah Air.

    “Dengan tercapainya kesepakatan bersama diharapkan mampu menumbuhkan industri fotovoltaik di dalam negeri dan mempercepat keinginan kita semua untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih mandiri di bidang energi,” ungkapnya.

    Workshop ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang terkait industri fotovoltaik, antara lain Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT. PLN (Persero), serta Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI).

    “Turut hadir pula para pimpinan dari pelaku usaha di bidang industri fotovoltaik, pimpinan daerah, dan akademisi,” ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.