Dorong Iklim Investasi di Indonesia, BNI Sarankan 3 Hal Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja membangun tiang underpass di lokasi megaproyek infrastruktur jalan tol Trans Jawa ruas Solo-Ngawi-Kertosono di Ngawi, Jawa Timur, 17 April 2016. ANTARA FOTO

    Sejumlah pekerja membangun tiang underpass di lokasi megaproyek infrastruktur jalan tol Trans Jawa ruas Solo-Ngawi-Kertosono di Ngawi, Jawa Timur, 17 April 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT BNI (Persero) Tbk Achmad Baiquni mengatakan setidaknya diperlukan tiga hal untuk mendorong iklim investasi dan pembangunan sehingga berkontribusi maksimal bagi negara.

    Tiga hal ini meliputi penguatan ekonomi secara makro seperti stabilitas ekonomi dan keterbukaan. Selain itu harus ada kondisi sosial politik yang mendukung serta dan ketersediaan infrastruktur.

    Selain itu, ada perbaikan tata kelola pemerintah dan kelembagaan termasuk kebijakan peraturan perpajakan hingga sektor keuangan. "Apabila ketiga stategi ini berjalan baik, maka perbaikan iklim investasi akan menjadi kenayataan," ujar Achmad Baiquni saat memberikan sambutan dalam acara CEO Forum di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis, 24 November 2016.

    Menurut Baiquni, iklim investasi yang sehat merupakan keharusan, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal tersebut karena investasi, terutama di sektor riil memiliki korelasi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang terlihat dari penurunan angka pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Baiquni menyebutkan permasalahan di sektor riil sendiri sangat kompleks. “Maka sangat tepat jika pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 telah mengidentifikasi permasalahan sektor riil khususnya di industri," ujarnya.

    Beberapa permasalahan di bidang industri itu misalnya pertumbuhan industri yang masih rendah, ekspor yang masih didominasi oleh barang mentah, ketergantungan impor bahan baku domestik, produktivitas rendah, dan distribusi yang tidak merata karena penyebaran hanya terkonsen di Jawa dan Sumatera.

    Menurut Baiquni, hal ini menyebabkan gejala deindustrialisasi, sehingga mutlak menjadi peran bersama dalam menyelesaikan permasalahan di sektor riil.

    Secara alamiah, kata Baiquni, Indonesia merupakan wilayah emerging market yang atraktif sebagai negara tujuan investasi. Populasi penduduk 250 juta, bonus demografi, pertumbuhan kelas menengah, pendapatan per kapita meningkat, adanya sumber daya alam memadai, hal tersebut potensi pasar yang luar biasa.

    Selain Indonesia, hanya Cina dan India yang memiliki kombinasi tersebut. Adapun Brasil dan Turki yang memiliki potensi menggaet investasi justru terpuruk karena kondisi politik yang sedang tidak stabil.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.