Gubernur Fed Isyaratkan Saatnya Membahas Suku Bunga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Federal Reserve. AP Photo/J. Scott Applewhite

    Federal Reserve. AP Photo/J. Scott Applewhite

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Federal Reserve AS, Daniel Tarullo, pada Selasa (15 November 2016) mengisyaratkan bahwa ia terbuka untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

    "Pembahasan kapan saat yang tepat untuk menaikkan suku bunga untuk mencegah ekonomi dari overheating terlalu banyak sekarang, dari sudut pandang saya lebih banyak di atas meja daripada sebelumnya," kata Tarullo dalam sebuah forum di Washington DC.

    Tarullo adalah salah satu pejabat Fed "dove" yang menganjurkan bahwa bank sentral harus menunggu bukti kuat untuk tren kenaikan dalam inflasi sebelum menaikkan suku bunga.

    Dia mengatakan bahwa ada beberapa perubahan dalam pola yang berlaku dalam inflasi dan pasar tenaga kerja untuk waktu yang lama. Indikator inflasi inti menunjukkan gerakan naik; pertumbuhan upah telah meningkat; dan tingkat partisipasi tenaga kerja cenderung hampir atau bahkan melebihi harapan, menurut pejabat itu.

    "Semua itu menunjukkan kepada saya bahwa kita berada dalam situasi agak berbeda dari setidaknya yang saya pikir kita berada dalam enam atau delapan, 10, 12 bulan yang lalu," kata Tarullo.

    Namun, ia menekankan bahwa Fed harus tetap berhati-hati dalam bergerak menaikkan suku bunganyat, karena masih ada pengenduran di pasar tenaga kerja dan bank sentral memiliki alat yang lebih sedikit untuk menanggapi resesi.

    Menurut analis, pernyataan Tarullo pada Selasa menunjukkan bahwa dia lebih terbuka untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut. The Fed akan mengadakan pertemuan kebijakan berikutnya, juga terakhir tahun ini, pada 13-14 Desember. Para investor secara memperkirakan Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.