Korsel Minat Investasi US$127 Juta Perluas Industri Kimia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Thomas Lembong mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 31 Agustus 2016. ANTARA FOTO

    Kepala BKPM Thomas Lembong mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 31 Agustus 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi minat investasi perusahaan Korea Selatan yang berniat untuk melakukan perluasan di bidang industri kimia senilai US$127 juta.

    Dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (15 November 2016) minat tersebut disampaikan dalam forum pertemuan antara perusahaan produsen baja Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Company (POSCO) dengan para pelanggannya di Songdo, Incheon, Korea Selatan.

    Dalam kegiatan bertajuk "POSCO Global Early Vendor Involvement (EVI) Forum 2016" itu, Kepala BKPM Thomas Lembong hadir sebagai pembicara tamu istimewa.

    Melalui pertemuan dengan Tom, sapaan akrab Thomas, investor Korsel yang bergerak di bidang industri manufaktur itu menyampaikan rencananya untuk memperluas bidang usaha, berupa turunan dari produk yang dihasilkan.

    Seperti disampaikan oleh investor tersebut, produk-produk yang akan dihasilkan dari rencana investasi tersebut masih memiliki nilai importasi yang tinggi, yaitu sebanyak 90 persen.

    Namun, ada kekhawatiran sebelum mereka merealisasikan rencana investasi tersebut, yaitu masuknya berbagai produk asal Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah dari produk di Indonesia.

    Investor Korea Selatan itu berharap banyak pada kebijakan pemerintah untuk membantu perusahaan-perusahaan yang sudah berinvestasi agar dapat terus berkembang dengan pesat di tengah kondisi iklim penanaman modal yang kondusif.

    "Terkait kekhawatiran mengenai membanjirnya produk asal Tiongkok yang dijual dengan harga sangat murah, tentunya akan dikaji kembali tentang mekanisme pengendalian importasi produk tersebut, mengingat produksi produk sejenis sudah dilakukan di dalam negeri," kata Tom.

    Ia menjelaskan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memprioritaskan pertumbuhan industri manufaktur yang dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi kondisi perekonomian di Indonesia.

    Baja dan kimia, di sisi lain, merupakan komponen bahan baku utama bagi sebagian besar industri lainnya, sehingga pertumbuhan industri baja dan kimia dapat memberi kontribusi besar bagi peningkatan kekuatan perekonomian, karena berfungsi sebagai tulang punggung sektor manufaktur.

    "Pemerintah akan membantu untuk memfasilitasi rencana investasi tersebut, terlebih lagi produk yang akan dihasilkan adalah substitusi impor," tambahnya.

    Tom juga mengaku telah meminta Pejabat Promosi Investasi IIPC Seoul Imam Soejoedi dan KBRI Seoul Fungsi Ekonomi untuk menindaklanjuti rencana investasi perusahaan tersebut.

    Ia juga meminta agar pihak-pihak terkait dapat mendiskusikan berbagai detail terkait permasalahan yang sedang dihadapi agar rencana investasi dapat direalisasikan dengan cepat.

    "Saya memberi perhatian besar terhadap penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi oleh para investor dalam berinvestasi di Indonesia. Apabila kita berhasil membantu penyelesaian permasalahan tersebut, maka akan menjadi cerita sukses yang memiliki nilai jual dalam berpromosi. Di samping itu, perusahaan yang telah puas akan penyelasaian masalahnya akan menjadi corong untuk Indonesia bagi para investor lainnya," ujarnya.

    Imam Soejoedi menyatakan kesiapannya untuk membantu mencarikan solusi terbaik dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Investor Korsel, terutama dengan memfasilitasi rencana investasi produk turunan dengan nilai investasi cukup besar, dengan nilai tambah yang tinggi bagi pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia.

    "Tim kami di Korsel sudah menerima arahan dari Kepaka BKPM dan akan terus menindaklanjuti minat investasi tersebut sehingga kami dapat mencarikan solusi terbaik bagi investor," terangnya.

    Berdasarkan data realisasi investasi Januari-September 2016 yang dihimpun BKPM, Korea Selatan menduduki peringkat ke delapan dengan nilai investasi mencapai 743 juta dolar AS dengan 1.944 proyek.

    Nilai realisasi investasi dari Korea Selatan tersebut, menyumbang 3,5 persen dari total realisasi investasi yang masuk pada periode Januari-September 2016 sebesar Rp453,4 triliun.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.